..SELAMAT DATANG DI BLOG MUKHLIS FADLI..MARI KITA SHARE PENGALAMAN..

Selasa, 19 Februari 2019

028. Petaka Gundik Jelita

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EPISODE : PETAKA GUNDIK JELITA


SATU

HUTAN kecil itu terletak di teluk yang sangat sepi. Hanya deburan ombak terdengar menderu di pasir sepanjang siang dan malam hari. Ombak yang begitu ganas membuat teluk itu hampir tak pernah didatangi manusia termasuk nelayan pencari ikan.

Tersembunyi di balik kerapatan pepohonan dan semak belukar terdapat sebuah pondok kayu beratap ijuk. Bangunan ini cukup besar, memiliki dua kamar serta langkan lebar. Dua orang tampak duduk di langkan, berhadap-hadapan satu sama lain. Untuk beberapa saat lamanya tak satupun dari mereka membuka mulut bersuara.

Duduk di sebelah kanan di dekat pintu adalah seorang tua berambut sangat putih, berkulit hitam, mengenakan pakaian berupa selempang kain kuning muda. Parasnya yang keriput dimakan usia tampak tenang walau benak dan lubuk hatinya disamaki berbagai pikiran dan perasaan. Di hadapannya duduk bersila seorang pemuda berpakaian putih, berbadan langsing dan berkulit puith halus. Rambutnya yang hitam agak tersuruk oleh ikat kepala putih.

Meskipun dia berpakaian cara laki-laki, namun keelokan paras dan kehalusan kulitnya tak dapat menyembunyikan bahwa sebenarnya pemuda ini adalah seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun.

“Empu, kau tadi hendak membicarakan sesuatu. Tapi sejak tadi kau hanya berdiam diri….” Terdengar suara gadis elok paras.

“Terus terang sebelumnya percakapan ini sudah kupersiapkan. Namun pada waktu tiba saatnya terasa tenggorokanku menjadi kering dan lidah seperti kelu,” kata orang tua yang dipanggil dengan sebutan Empu. “Nawang Suri, ketahuilah, sejak kita tersingkir dari Kotaraja lama, sejak orang tuamu terbunuh, sejak sanak saudara handai taulan dan semua pejabat pengasuh dimusnahkan, sejak itu pula aku hampir-hampir hilang rasa percaya diri…”

“Tapi Empu!” sang dara bernama Nawang Suri cepat memotongnya. “Selama ini justru empu selalu menanamkan semangat percaya diri padaku. Selalu mengobarkan api keberanian dan tekad bulat bahwa suatu ketika semua yang musnah itu akan kita dapatkan kembali. Adalah aneh kalau sekarang empu bicara lain…”

Si orang tua itu batuk-batuk beberapa kali lalu mengaanggukkan kepalanya. “Aku sudah tua Nawang dan aku bukan manusia yang dapat menyembunyikan kenyataan. Sikap dan semangatku hanya akan sampai sejauh batas usiaku yang tinggal tidak berapa lama lagi. Sebaliknya semangat dan tekadmu masih harus menempuh jalan jauh dan sulit. Karena itulah aku selalu mengobarkannya dalam hati sanubarimu. Jalan yang akan kau tempuh tidak mudah apalagi mengingat kau seorang gadis muda usia. Namun menyadari bahwa kau sebenarnya adalah satu-satunya kekuatan yang tingal, yang memiliki hak sebagai pewaris Kerajaan lama yang dimusnahkan oleh penguasa yang sekarang, maka kau harus mempunyai keyakinan, keberanian serta tekad bulat. Bahwa apapun yang terjadi kau harus mendapatkan kembali hak mu yakni tahta Kerajaan yang hilang. Kau harus dan memang hakmu kelak untuk menjadi Ratu penguasa di delapan penjuru angin tanah kelahiranmu ini. siapa yang telah memusnahkan orang tua dan saudara-saudaramu harus ganti dimusnahkan. Tahta yang hilang harus kembali ke tanganmu. Kau satu-satunya yang berhak muridku. Seperti kukatakan tadi, jalan untuk mencapai itu tidak mudah. Musuh begitu kuat dan besar. Namun dengan bekal kepandaian yang kau miliki aku yakin kau akan berhasil mendapatkan tahta yang hilang itu. Aku berdoa pada Dewa semoga pada saat kau dinobatkan menjadi Ratu, aku yang tua ini masih diberikan umur panjang untuk menyaksikannya. Hanya satu hal yang harus kau ingat Nawang. Ilmu kepandaian yang betapapun tingginya tidak ada manfaatnya bilamana tidak disertai akal pikiran dan kecerdikan. Lakukan rencana yang telah kita susun dengan sebaik-baiknya. Jika kau nanti meninggalkan teluk ini bersikaplah selalu hati-hati. Aku tahu pasti mata-mata penguasa berkeliaran di mana-mana. Sebelum kita berdua mereka temukan dan tumpas, mereka tidak merasa aman. Hindari jalan-jalan umum. Jangan pernah bicara dengan siapapun. Masuklah ke Kuto Gede pada malam hari. Ingat, satu- satunya yang harus kau cari dan temui adalah Gama Manyar seorang ahli ukir-ukiran perak. Sepertiku dia sebenarnya juga seorang empu. Nama sebenarnya Empu Soka Panaran…”

Lama Nawang Suri terdiam sebelum akhirnya berkata, “Semua pesan dan petunjuk empu akan aku ikuti. Kalau murid boleh bertanya kapan aku harus berangkat ke Kuto Gede?”

“Malam ini!” jawab Empu Andiko Pamesworo.

“Malam ini? Begitu cepat?” tanya Nawang Suri hampir tak percaya.

“Pekerjaan yang harus kita lakukan memang jenis pekerjaan gerak cepat. Berlama-lama berarti hanya memberi kesempatan pada penguasa untuk lebih leluasa menyusun kekuatan!”

“Jika begitu kata empu, aku akan melakukannya.” Jawab Nawang Suri dengan hati bulat. “Kalau bertemu dengan Empu Soka Panaran, apa yang murid harus katakan padanya?”

“Kau tak perlu bicara atau mengatakan apa-apa. Dia sudah maklum arti kedatanganmu. Ingat baik-baik Nawang. Selalu bersikap hati-hati. Jangan bicara dengan sipapun. Usahakan untuk tidak bertemu dengan siapapun sebelum mencapai Kuto Gede. Juga jangan percaya pada siapapun!”

“Saya akan ingat hal itu baik-baik, empu saya minta diri untuk mempersiapkan segala sesuatu…”

“Tunggu dulu Nawang,” ujar Empu Andiko Pamesworo. Dari balik selempang pakaian putihnya orang tua ini mengeluarkan sebilah keris berhulu dan bersarung emas. Senjata ini memancarkan sinar kuning yang angker. Empu Andiko mencium keris itu tiga kali berturut-turut. Lalu meletakkannya di atas pangkuannya.

“Ini adalah Mustiko Geni, pusaka tunggal Kerajaan semasa ayahmu memerintah. Siapa yang memilikinya dialah yang berhak akan tahta kerajaan. Ini bukan senjata biasa Nawang. Keris ini memiliki keampuhan luar biasa karena sakti. Bila kau cabut dari sarungnya akan terpancar sinar merah dan hawa sepanas api akan membersit. Jarang lawan yang sanggup menghadapinya. Karenanya kau hanya boleh mempergunakan bilamana dalam keadaan terdesak sekali…”

Kagum Nawang Suri mendengar keterangan sang empu. Matanya tak berkedip memandang senjata yang ada di atas pangkuan itu.

“Ambillah Nawang…” Kata Empu Andiko.

“Keris… Mustiko Geni itu untuk saya empu?” tanya Nawang Suri hampir tak percaya.

Aku tidak memberikannya padamu Nawang. Keris ini adalah milikmu sebagai pewaris tunggal Kerarjaan. Selama ini aku hanya tolong menyimpan…”

Dengan dua tangan gemetar Nawang Suri mengambil senjata itu dari atas pangkuan sang empu. Aneh. Mustiko Geni ternyata enteng sekali. Pada saat dara memegang keris sakti tersebut, detik itu pula Empu Andiko Pamesworo menjatuhkan diri bersimpuh.

Nawang Suri tersentak kaget. “Empu, mengapa kau menyembahku?!” tanya sang dara.

Si orang tua tersenyum. “Karena kaulah pewaris tunggal Kerajaan yang syah. Karena kau adalah Ratu ku kepada siapa aku berbakti!”

Nawang Suri menggigit bibirnya lalu berkata perlahan, “Seperti katamu empu. Perjalanan masih jauh. Belum saatnya siapapun menyembahku. Aku saat ini hanya manusia biasa, tak lebih seperti engkau sendiri…”

Ketika Empu Andiko Pamesworo mengangkat wajahnya tampaklah air mata telah membasahi pipinya yang cekung. “Muridku, sifat dan tutur bicaramu sangat menyerupai Sri Baginda, mendiang ayahmu…”

DUA

Hanya beberapa saat saja setelah Nawang Suri meninggalkan pondok di teluk, dalam kegelapan malam, di bawah udara dingin mengandung garam di bawah deru ombak yang berdebur di atas pasir, tiga sosok tampak berkelebat cepat laksana bayang-bayang. Tiga sosok tubuh ini bergerak menuju pondok. Salah seorang mengintip lewat celah dinding, dua lainnya berjaga-jaga. Yang mengintip kemudian kembali menemui dua kawannya.

“Di kamar yang ada lampu menyala kulihat empu itu. Seroang diri. Kita berhasil mencapai tujuan. Tapi orang yang kita cari mungkin tak ada di sini!”

“Sebelum pondok itu digeledah mana mungkin kita tahu dia ada di dalam atau tidak!” menyahuti kawannya. Agaknya dia yang menjadi pimpinan dari tiga manusia dalam gelap itu.

“Kita akan menyelidik sekarang atau menunggu sampai pagi?” bertanya orang ketiga.

“Jangan tolol!” desis sang pemimpin. “Apa yang bisa dilakukan malam ini harus dilakukan sekarang juga!”

Lalu dia memberi isyarat. Lelaki pertama berkelebat ke arah pintu belakang pondok. Orang kedua laksana seekor burung alap-alap tanpa menimbulkan suara sedikitpun melesat ke atas atap pondok yang terbuat dari tumpukan ijuk tebal. Yang berlaku sebagai pemimpin melangkah mendekati pintu depan. Siapapun manusianya yang ada di dalam pondok itu jelas tak akan mungkin lolos atau keluar tanpa diketahui.

“Andiko Pamesworo!” si pemimpin berseru. Suaranya keras meskipun hampir larut oleh suara deburan ombak di teluk. “Kami orang-orang Kerajaan berada di sini. Lekas keluar bersama muridmu!”

Lampu di dalam pondok serta merta padam. Kegelapan semakin mencekam tempat itu. “Orang-orang Kerajaan!” terdengar suara Empu Andiko Pamesworo dari dalam bangunan kayu. “Lima tahun berlalu. Akhirnya kalian datang juga. Aku memang sudah bosan menunggu. Tiga orang tamu yang datang bersama angin dan kegelapan malam, silahkan masuk…”

Tiga orang yang mengaku orang-orang Kerajaan itu diam-diam menjadi kaget. Masih berada di dalam pondok yang gelap, bagaimana sang empu mengetahui kalau mereka berjumlah tiga orang!

Lelaki di atas atap tampak mengangkat tangan, siap untuk menghantam. Kawannya yang tegak di pintu depan memberi isyarat agar tidak bertindak kesusu. Lalu dia berseru, “Empu tua! Jangan kau berani berlaku tidak sopan terhadap kami! Mempersilahkan masuk tapi semua pintu tak ada yang dibuka! Menyuruh masuk tapi rumah dalam gelap gulita!”

"Ha-ha-ha...!” Terdengar Empu Andiko Pamesworo tertawa. “Menuduh aku si tua bangka berlaku tidak sopan. Lalu apakah kalian bertiga punya sopan santun? Mendatangi tumah orang di tengah malam buta sambil berteriak-teriak! Satu menghadang di pintu belakang, satu lagi memanjat di atas atap. Lainnya menunggu di pintu depan! Tuan rumah mana yang suka berbasa-basi dengan kalian?!”

Marahlah ketiga tamu dalam gelap itu. Yang di pintu depan membentak. “Masih untung kami datang dan berteriak memberitahumu! Seharusnya pondok butut ini kami bakar dulu baru bicara! Atau kau bersikap sombong karena belum tahu siapa kami bertiga…?”

Tak ada jawaban dari dalam. Empu Andiko tahu kalau yang datang ada tiga orang tapi mungkin tidak tahu siapa-siapa ketiganya. “Aku Buto Celeng dan dua saudaraku Luwak Celeng serta Gagak Celeng! Kami datang untuk menangkapmu dan muridmu!”

Dengan memberi tahu siapa mereka si pemimpin yakni Buto Celeng mengira akan membuat sang empu menjadi takut lantas keluar tunjukkan diri. Tapi dari dalam justru terdengar suara ejekan menghina.

“Ah, tiga ekor celeng rupanya! Kasihan, malam-malam buta begini kalian tersesat sampai ke teluk! Kalau begitu tunggulah sampai pagi. Kalau hari sudah terang tentulah kalian tahu jalan pulang!”

“Tua bangka kurang ajar!” Buto Celeng marah sekali. “Diberi kesempatan jelas-jelas minta mati!”

Dia lalu memberi isyarat pada Gagak Celeng yang ada di atas atap. Sesaat kemudian nampak api berkobar di atap yang terbuat dari ijuk itu. dalam waktu singkat kobaran api melahap seluruh atap terus merambat ke dinding kayu. Ketika seluruh bangunan telah dimakan api, lalu rubuh tinggal puing-puing hitam saja, tiga orang itu melangkah mengitari reruntuhan pondok. Mereka tidak menemukan Empu Andiko Pamesworo ataupun tulang belulangnya di antara reruntuhan. Selagi mereka mencari-cari dari sebelah kiri terdengar suara menegur.

“Aku di sini! Mengapa mencari di situ…?!”

Kagetlah Buto Celeng dan dua saudaranya. Bagaimana mungkin sang empu menyelinap keluar dari dalam pondok yang dilalap api tanpa mereka lihat atau ketahui?!

“Empu Andiko!” bentak Buto Celeng. “Umurmu tidak lama! Lekas katakan di mana anak itu kau sembunyikan!”

“Siapa menyembunyikan siapa?!”

“Keparat! Siapa lagi kalau bukan muridmu bernama Nawang Suri itu yang kami cari!” hardik Gagak Celeng. Dialah tadi yang membakar pondok kediaman sang empu.

“Oh, muridku itu…” ujar sang empu. “Aku akan memberitahu di mana dia berada kalau saat ini juga kalian bisa menggantikan pondokku yang kalian bakar! Sanggup…?!”

“Kau bicara ngacok!” membentak Luwak Celeng. “Kau akan mendapat pondok baru di akhirat!”

Empu Andiko tertawa. “Kalian tidak akan menemukan Nawang Suri di sini. Dia sudah lama pergi…”

“Pendusta!” bentak Buto Celeng.

“Lekas beritahu di mana gadis itu berada!” menghardik Gagak Celeng.

“Sudah kukatakan dia tak ada di sini.”

“Kalau begitu terpaksa kami membunuhmu saat ini juga!” mengancam Buto Celeng.

Si orang tua itu tidak takut akan ancaman itu menjawab sambil tersenyum. “Seharusnya kalian para perampas tahta Kerajaan sudah membunuhku empat tahun silam! Malam ini kalian akan menyesal tidak melakukan hal itu!”

“Adik-adikku!” seru Buto Celeng. “Tua bangka ini memang tak layak dibiarkan hidup lebih lama!” begitu selesai bicara Buto Celeng melesat ke depan diikuti oleh dua saudaranya. Dalam gelap malam dan udara dingin pecahlah perkelahian di tempat itu.

Buto Celeng dan dua adiknya adalah tokoh-tokoh silat istana tingkat ketiga. Seperti diketahui tidak mudah menjadi tokoh silat di kalangan Kerajaan. Karenanya walaupun cuma berada di tingkat tiga deretan hulubalang terpercaya namun tingkat kepandaian tersebut tidak sembarangan orang bisa mendapatkannya.

Dengan kata lain ilmu silat yang dimiliki tiga bersaudara Celeng itu berada pada tingkat tinggi. Apalagi mereka berjumlah tiga orang. Maka arus serangan mereka dalam gebrakan pertama sudah berarti kematian bagi Empu Andiko Pamesworo. Tak dapat tidak orang tua yang malang ini akan menemui ajal dengan kepala pecah atau dada remuk atau perut jebol!

Akan tetapi betapa terkejutnya ketiga tokoh silat Istana tersebut ketika dengan gerakan tenang tapi gesit. Laksana hembusan asap tubuh sang empu meliuk dan berhasil mengelakkan tiga serangan maut mereka!

“Bagus! Keluarkan seluruh kepandaianmu agar tidak mampus penasaran!” teriak Gagak Celeng coba menutupi rasa kagetnya. Lalu seperti seekor burung tubuhnya melesat ke atas. Tangan dan kaki menyebar serangan susul menyusul.

Kembali dengan satu gerakan tenang dan gesit Empu Andiko berkelebat ke samping. Tubuhnya miring ke kiri dan kaki kanannya tiba-tiba sekali menendang ke arah pinggang Gagak Celeng. Kalau saja dari kiri kanan tidak datang Buto Celeng dan Luwak Celeng menyerbu dan memaksa sang empu tarik kakinya yang menendang sambil mundur, maka sudah dapat dipastikan pinggang Gagak Celeng akan termakan tendangan.

“Bangsat tua ini ternyata boleh juga!” berbisik Luwak pada Buto.

“Kita harus mengurung dan menggempurnya habis-habisan. Lama-lama masakan tenaganya tidak melorot. Kita harus memaksanya bergerak cepat terus menerus hingga kehabisan tenaga!”

Ucapan Buto Celeng itu diterima dua saudaranya. Ketiganya kembali menyerang. Kali ini dengan lebih gencar. Angin pukulan dan tendangan menderu-deru menggempur Empu Andiko. Dengan mengandalkan jurus-jurus bertahan yang ampuh sampai delapan jurus di muka orang tua itu berhasil membendung serangan tiga pengeroyok.

Namun hal ini membuat dia tidak berkesempatan melakukan serangan balasan. Agaknya tiga tokoh silat istana itu mulai mengetahui di mana letak kelemahan jurus-jurus silat si orang tua. Dalam keadaan kepepet Empu Andiko tiba-tiba keluarkan suara pekik seperti seruling melengking, membuat tiga lawan sesaat tercekat. Sebelum ketiganya pulih dari pengaruh pekikan aneh itu Empu Andiko Pamesworo berhasil menghantam dada Luwak Celeng dengan jotosan tangan kiri yang amat keras.

Luwak Celeng terpelanting empat langkah, jatuh terduduk di tanah. Mulutnya terasa panas dan asin. Ketika meludah, yang jatuh ke tanah adalah cairan darah! Menahan sakit dengan kalap Luwak Celeng bangkit berdiri dan di tangan kanannya kini tergenggam sebilah pedang bermata dua. Tampaknya senjata ini bukan senjata biasa karena dalam gelap memancarkan sinat keputihan.

"Wuttt...!" Pedang di tangan Luwak Celeng menyambar.

"Wuttt! Wuttt...!" Ternyata ada dua pedang lagi yang datang menyambar susul menyusul.

Empu Andiko melompat selamatkan diri dari sambaran tiga senjata itu. Di hadapannya, tiga bersaudara Celeng tegak memegang pedang berbentuk sama dengan tampang bengis.

“Kalian orang-orang Kerajaan ternyata tikus-tikus pengecut!” ujar Empu Andiko. Diam-diam dia menekan rasa kawatirnya. Sambaran angin tiga pedang tadi membuat dia maklum bahwa tiga senjata musuh itu akan menimbulkan kesulitan baginya.

“Pengecut! Mengeroyok dan andalkan senjata!”

“Kalau kau punya senjata keluarkanlah!” hardik Luwak Celeng.

“Senjataku ini!” Empu Andiko. Dia melompat ke kiri. Sesaat kemudian di tangannya sudah terpegang sepotong balok puing bangunan rumahnya yang terbakar. Ujung balok itu masih merah membara. “Manusia-manusia pengecut! Ayo maju! Kalian tunggu apa lagi!”

Buto Celeng meludah ke tanah. Luwak berteriak garang. Gagak sudah mendahului menyerbu. Justru dia disambut dengan sodokan ujung balok membara. Ketika pedangnya dipakai untuk menghantam balok itu, puing-puing berapi muncrat bertebaran, menghantam muka dan pakaiannya. Gagak Celeng berteriak kesakitan lalu mengamuk marah. Dua saudaranya ikut berteriak berang. Tiga pedang kembali berserabutan dalam gelapnya malam.

Serangan tiga pengeroyok itu mengarah bagian-bagian yang sulit hingga Empu Andiko menjadi sibuk. Setelah empat jurus lagi berlalu orang tua ini menyadari bahwa tenaganya mulai terkuras. Gerakannya yang semula tenang tetapi gesit kini tampak lamban. Dua sambaran pedang berhasil merobek pakaian putihnya.

“Ha-ha-ha! Sebentar lagi kulit dan dagingmu yang akan kami robek-robek!” teriak Luwak Celeng.

Dari mulutnya semakin banyak darah mengucur. Sebenarnya saat itu rasa sakit di dadanya hampir tak tertahankan lagi. Tapi kobaran api dendam dan kemarahan membuat dia berubah seperti setan dan mengamuk habis-habisan.

“Empu Andiko!” berseru Buto Celeng. “Jika kau mau memberitahu di mana Nawang Suri berada, kami bertiga akan mengampuni nyawamu!”

Sang Empu menyeringai. Dia tahu betul sifat culas orang-orang Kerajaan itu. tak bisa dipercaya. Dia tak akan memberitahu apapun yang terjadi. Diberitahu atau tidak dia yakin ajalnya akan sampai juga malam itu.

“Siapa sudi minta ampun pada kaki tangan penumpas biadab!” Empu Andiko balas berteriak.

“Kalau begitu benar-benar kau memilih mati!”

“Aku tidak takut mati. Tapi paling tidak satu di antara kalian harus menyertaiku ke liang kubur!” teriak Empu Andiko lagi.

Balok di tangannya berputar aneh. Menghantam ke arah punggung Luwak Celeng. Orang yang diamuk kamarahan itu seperti tidak menyadari bahaya yang mengancamnya. Ketika Gagak memperingatkan, dia membuat gerakan yang salah yaitu merunduk. Akibatnya balok berapi menghantam batang lehernya. Terdengar dua kali suara 'krak' dalam waktu hampir bersamaan. Kraak yang pertama adalah suara patahnya ujung balok sedang kraak yang kedua suara patahnya batang leher Luwak Celeng!

Berhasilnya dia membunuh seorang lawan ternyata harus dibayar mahal oleh Empu Andiko, yakni dengan nyawanya sendiri. Baru saja dia membalikkan badan untuk mengahadapi dua lawan yang datang menyerang, dua ujung pedang tahu-tahu sudah diarahkan kepadanya. Satu menempel tepat di batang tenggorokan, satu lagi dipertengahan dada.

“Kami masih bersedia mengampunimu!” kata Buto Celeng menyeringai.

“Ya!” ujar Gagak. “Lekas katakan di mana Nawang Suri berada!”

“Tanyakan nanti pada mayatku!” jawab Empu Andiko tenang dan dingin.

“Kalau begitu nyawamu memang tidak tertolong lagi!” kertak Buto Celeng.

Ujung pedang yang dipegangnya ditusukkan kuat-kuat menembus tenggorokan. Di saat yang sama Gagak Celeng hujamkan ujung senjatanya ke dada si orang tua. Tubuh yang seperti disatai itu tergelimpang rubuh begitu keduanya menarik pedang masing-masing.

“Kita harus bergerak cepat!” kata Buto Celeng sambil membersihkan senjatanya dari noda darah. “Besar dugaanku Nawang Suri belum lama meninggalkan tempat ini.”

“Sementara kau pergilah dulu. Bagaimanapun kita tak bisa meninggalkan mayat Luwak seperti ini…” ujar Gagak Celeng.

“Aku tahu. Tapi kita tak banyak waktu. Gadis itu harus diringkus secepatnya. Besok pagi kita suruh orang mengambil jenazah Luwak.”

Gagak terpaksa menyetujui ucapan saudaranya itu. Keduanya kemudian berkelebat menerobos hutan gelap.

********************

TIGA

“Hujan gila!” maki orang itu dalam hati seraya mempercepat larinya dalam kegelapan.

Meski rimba belantara itu cukup lebat namun tidak mampu membendung curahan hujan yang begitu deras. Sebentar saja sekujur tubuh dan pakaian orang itu sudah basah kuyup. Dia membetulkan letak buntalan perbekalan di punggungnya sesaat, lalu lari kembali ke jurusan barat laut. Sebentar-sebentar dia meraba kumis tibpis yang menghias bibirnya. Dia merasa lega ketika akhirnya keluar dari hutan kini bebukitan kecil yang merupakan bukit sawah membentang di hadapannya.

Udara terasa dingin, apalagi dalam keadaan basah kuyup seperti itu. Sebelumnya tak pernah dia berlari sejauh itu namun sedikitpun dia tak merasa letih. Dengan lincah dia berlari di atas pematang-pematang sawah yang cukup untuk pemijakan kaki serta licin pula. Meskipun tidak letih namun ketika melihat sebuah dangau di ujung persawahan, orang ini akhirnya pergi duduk di sana. Dia tak perlu merasa cepat-cepat dalam perjalanan itu. Bukankah dia tak akan memasuki Kuto Gede besok siang. Tapi sesuai petunjuk dia akan menunggu sampai malam, baru memasuki kota kecil itu bila dirasakannya sudah aman.

Setelah merasa cukup lama duduk di dangau itu, orang tersebut melompat turun dan melanjutkan perjalanan. Baru saja dia berlari beberapa langkah lapat-lapat didengarnya suara orang berlari di kejauhan. Ada lebih dari satu orang yang berlari ke jurusannya dan sangat cepat. Ketika berpaling benar saja. Di lihatnya dua orang lelaki berlari mendatangi. Yang sebelah depan malah terdengar berseru.

“Kisanak! Berhenti dulu!”

Orang berkumis terus saja berlari. Malah berusaha lebih cepat hingga kedua orang dibelakangnya tertinggal.

“Hai tunggu! Jangan takut! Kami bukan begal! Kami hanya ingin bertanya!”

Orang di sebelah belakang kembali berteriak. Dia dan kawannya mempercepat lari masing-masing. Orang di sebelah depan akhirnya berhenti. Tapi dia tegak membelakangi hingga ketika kedua orang itu sampai, mereka terpaksa mengelilinginya lalu tegak berhadap-hadapan.

“Dengar, kami bukan begal atau rampok. Kami hanya ingin bertanya. Kisanak muda ini dari mana dan hendak menuju ke mana?”

Yang ditanya geleng-gelengkan kepala dan goyang-goyangkan tangan.

“Ah, kenapa tak mau menjawab?” Lelaki di sebelah kanan yang bukan lain adalah Buto Celeng bertanya. “Kami ingin bertanya apakah kisanak melihat seseorang melintas daerah ini?”

Kembali yang ditanya goyangkan tangan dan kepala. Dari mulutnya terdengar suara “A... aa... uu... u...”

“Pemuda ini gagu!” tanya Gagak Celeng pada saudaranya.

“Kelihatannya begitu,” ujar Buto Celeng.

“Jadi kau tidak melihat siapa-siapa lewat di sini?”

“Aa... aa... uuuuu... uuuuu”

“Sudahlah! Kau boleh pergi sana!” kata Gagak Celeng.

Pemuda berkumis itu manggut-manggut lalu berlari pergi

“Kenapa kau suruh pergi dia?” tanya Buto Celeng agak jengkel.

“Habis kita mau bikin apa? Ditanyapun dia tak bisa menjawab!”

“Setahuku orang gagu sekaligus tuli. Pemuda tadi kelihatannya seperti tidak tuli,” ujar Buto Celeleng

“Apa pentingnya tuli atau tidak. Lagi pula seseorang bisa saja menderita gagu setelah dewasa…”

“Hemmm...” Buto Celeng usap-usap dagunya. “Aku menaruh curiga pada pemuda itu. Tidakkah kau lihat kumisnya tipis tapi cukup lebat. Padahal dagunya polos dan kedua pipinya licin. Kulitnya sehalus kulit perempuan. Lalu suaranya. Memang seperti orang gagu. Namun seolah menyenbunyikan sesuatu…”

“Kau melantur saja. Ayo kita lanjutkan perjalanan!” kata Gagak Celeng.

“Tidak!” sahut Buto tegas. “Aku akan mengejar pemuda halus itu!”

Lalu tanpa tunggu lebih lama dia melesat mengejar pemuda di depan sana. Mau tak mau adiknya terpaksa mengikuti.

“Hai orang muda! Tunggu!” panggil Buto Celeng sambil lari dan kerahkan seluruh tenaga serta kepandaian mengejar. Tidak seperti tadi, kali ini meskipun sudah diteriaki beberapa kali, pemuda berkumis terus saja tetap lari dan ternyata Buto dan Gagak Celeng cukup menemui kesulitan untuk memperpendek jarak.

“Kau lihat sendiri!” kata Buto pada adiknya. “Jika dia seorang pemuda jembel gelandangan biasa masakan bisa lari secepat itu!”

“Kau betul! Kita kejar terus!” membenarkan Gagak Celeng.

“Aku kelupaan membawa senjata rahasia. Kau ada membekali diri?”

“Aku juga tidak. Tapi aku ada membawa sebilah pisau pendek. Biar kuhantam dengan pisau ini!” Gagak Celeng keluarkan sebilah pisau pendek dari pinggangnya dan siap melemparkan senjata ini.

“Arahkan ke kaki kanannya atau kirinya! Aku ingin menangkap monyet itu tanpa banyak cidera!” berkata Buto Celeng.

Gagak Celeng gerakkan tangan kanannya. Pisau pendek mencuat di udara, membelah kegelapan malam, melesat ke arah kaki kanan pemuda yang berlari. Seperti terpeleset tiba-tiba pemuda di depan sana jatuh terguling. Tubuh dan pakaiannya yang basah kini penuh dengan tanah dan lumpur sawah. Buntalannya mental entah kemana. Ketika dia bangkit dengan cepat, satu telapak kai menekan keningnya dengan kuat.

“Aa…uu… aaa… aaaa”

“Au… auuuuuu!” sentak Buto Celeng. “Aku mau tahu apakah kau benar-benar gagu!”

Lalu Buto keluarkan pedangnya, langsung ditusukkan ke perut si pemuda. Namun setengah jengkal dari perut tusukannya ditahan. Jika pemuda ini benar-benar gagu dia hanya akan mengeluarkan suara a-u… a-u. Tapi jika dia hanya berpura-pura gagu maka niscaya akan menjerit.

“Aaaaa... uuuuu… uuuuu… aaaaa… uuuuu!”

Pemuda itu goyang-goyangkan kedua tangannya. Kedua kaki menghempas-hempas. Tapi injakan kaki kanan Buto Celeng berat dan keras.

“Bangsat! Kau mungkin memang gagu! Tapi perlihatkan dulu siapa dirimu sebenarnya!” Habis berkata begitu tangan kiri Buto Celeng melesat ke bawah hidung si pemuda.

"Srettt...! Kumis tipis di bagian sisi kiri bibir si pemuda terlepas tanggal!

“Apa kataku!” seru Buto Celeng sementara Gagak melongo tak percaya! “Sekarang coba kuperiksa rambutmu!” kembali Buto Celeng keluarkan suara keras. Dan tangan kirinya berkelebat ke arah kain putih penutup dan ikat kepala si pemuda. Sebelum maksudnya kesampaian untuk menarik ikat kepala tak terduga tiba-tiba si pemuda keluarkan bentakan keras. Tangan kanannya memukul ke samping.

Buto Celeng menjerit kesakitan. Kaki kanannya seperti dihantam pentungan besi. Mungkin tulang keringnya sudah remuk saat itu!

EMPAT

“Jahanam keparat!” bentak Gagak Celeng marah. “Kau apakan saudaraku!”

Lalu diapun cabut pedang mata dua dari pinggang, langsung membacok ke bawah. Bagian tajam pedang hanya menghantam lumpur pematang sawah karena orang yang dibacok dengan gerakan luar biasa telah lebih dulu melompat dan kini tegak dengan memasang kuda-kuda kukuh.

“Bangsat! Katakan siapa kau sebenarnya!” hardik Buto celeng. Rahangnya bertonjolan sedang kedua pelipisnya bergerak-gerak saking geramnya.

Pemuda yang ditanya tak menjawab ataupun bergerak. Dia tetap tegak memasang kuda-kuda. Memperhatikan kedudukan kuda-kuda si pemuda. Gagak Celeng berbisik pada saudaranya.

“Jelas keparat ini memiliki kepandaian silat. Aku curiga jangan-jangan dia orang yang kita cari-cari! Lihat saja muka dan kulitnya seperti perempuan. Kalau tidak menyembunyikan sesuatu mengapa tadi dia memakai kumis palsu!”

“Akupun menduga demikian,” balas berbisik Buto Celeng. “Biar kita lihat apa dia betul seorang pemuda, atau perempuan, ataupun banci!”

Habis berkata begitu Buto Celeng tusukkan pedang di tangan kanannya ke arah dada pemuda di hadapannya. Gerakannya ini sebenarnya hanyalah tipuan belaka karena begitu lawan mengelak, Buto Celeng ulurkan tangan kiri untuk menjambret kain putih penutup kepala si pemuda!

Tubuh yang membuat gerakan mengelak mendadak menendang ke depan sewaktu tangan kiri Buto Celeng menyambar. Tokoh silat tingkat tiga istana ini tidak tinggal diam. Sadar gerakannya menjambret tidak kesampaian maka kembali pedangnya beraksi. Senjata ini membabat deras ke arah kaki yang menendang. Bersamaan dengan itu dari samping kanan Gagak Celeng ikut menggempur dengan satu tusukan ke sisi kiri si pemuda.

Terjadilah hal yang luar biasa. Tubuh si pemuda mendadak sontak seperti melejit ke udara. Dua hantaman pedang menggempur tempat kosong. Begitu tubuhnya melayang tutun, si pemuda sebar serangan berupa tendangan berantai, masing-masing mengarah batok kepala Buto dan Gagak Celeng.

Meskipun tersentak kaget melihat ilmu meringankan tubuh serta serangan lawan namun dua tokoh silat istana itu masih dapat mengelak. Malah begitu lawan baru saja menginjakkan kedua kaki di pematang sawah, mereka kembali menyerbu dengan sebat. Sambil melancarkan serangan deras, Buto Celeng berbisik pada saudaranya.

“Perhatikan gerakan si pemuda itu Gagak. Banyak sekali persamaannya dengan ilmu Empu Andiko Pamesworo! Aku curiga, bahkan hampir pasti pemuda ini adalah orang yang kita cari!”

“Tadipun aku sudah menduga!” menjawab Gagak Celeng. “Kita gempur terus. Jangan beri kesempatan! Desak dia agar masuk ke dalam sawah berlumpur!”

“Aku punya akal lain. Kita akan segera lihat apakah dia benar orang yang kita cari atau bukan!”

“Apa yang hendak kau lakukan?” tanya Gagak Celeng pula.

Sambil terus bolang-balingkan pedangnya menyerang lawan, Buto Celeng tiba-tiba berteriak. “Anak muda muka pucat! Jangan kira kami tidak tahu siapa kau adanya! Jika kau tak lekas menyerahkan diri niscaya kau akan menyusul gurumu ke akhirat! Ketahuilah kami adalah utusan dari istana! Sarang kediaman gurumu telah kami temui malam ini! dan Empu Andiko Pamesworo sudah kami bunuh!”

Paras pemuda berpakaian penuh lumpur itu mendadak tampak berubah. Dia membuat gerakan melompat mundur. “Manusia keparat! Kau membunuh Empu Andiko katamu...?!”

Buto Celeng tertawa bergelak. “Lihat! Ternyata dia tidak gagu!”

“Dan suaranya seperti suara perempuan!” menyambung Gagak Celeng.

“Betul! Dia memang perempuan! Dan dia pastilah Nawang Suri, puteri raja yang berusaha menyusun pemberontakan!”

Si pemuda nampak tercekat. Karena terkejut mendengar kata-kata Buto Celeng tadi, dia telah membuka suara yang berarti membuka rahasia diri dan penyamarannya.

“Ha-ha-ha! Kau tidak bisa lari dari kami Nawang Suri! Kau hanya punya satu pilihan. Tertangkap hidup-hidup atau menyusul gurumu!”

“Manusia-manusia durjana! Jika kalian benar telah membunuh Empu, kalian akan rasakan pembalasanku saat ini juga!”

Buto Celeng dan Gagak Celeng sambut ucapan lawan dengan tawa bergelak lalu sama-sama menghamburkan serangan pedang. Mereka membuat gerakan-gerakan menjepit karena masih bermaksud untuk menangkap lawan hidup-hidup. Tetapi ketika lawan yang bertangan kosong itu bertahan dan balas menyerang dengan nekad, mau tak mau keduanya tidak memperhitungkan lagi apapun yang terjadi. Gerakan pedang mereka berubah menjadi ganas hingga bagaimanapun hebat pertahanan si pemuda cepat atau lambat bahaya maut pasti akan melandanya!

Pada jurus kesembilan belas dalam satu gebrakan hebat Buto Celeng membabat ke arah kepala lawan. Di saat yang sama satu tusukan deras datang dari depan, dilakukan oleh Gagak Celeng. Lawan yang dikeroyok merunduk untuk elakkan tebasan Buto Celeng. Tapi karena sekaligus dia harus melompat mundur untuk selamatkan perut dari tusukan Gagak Celeng maka gerakan merunduknya agak terlambat.

"Breettt...!"

Kain putih penutup kepala robek besar. Rambut hitam panjang yang tadi tergelung di bali kain itu tergerai keluar. Kini si pemuda tak dapat lagi menyembunyikan bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang gadis remaja. Dan dia bukan lain memang Nawang Suri!

“Ha-ha-ha! Kedokmu benar-benar sudah terbuka Nawang Suri!” seru Buto Celeng. Pegangannya pada hulu pedang semakin diperketat. Serangannya dan serangan adiknya bertambah ganas.

Dalam kegelapan malam di tempat terbuka di pesawahan itu tiba-tiba berkelebat pancaran sinar merah. Serentak dengan itu dua tokoh silat istana tadi merasakan ada hawa panas yang menyambar. Keduanya seperti terdorong ke belakang oleh satu kekuatan dahsyat yang tidak kelihatan. Memandang ke arah tangan kanan Nawang Suri, terkejutlah keduanya dan berseru hampir bersamaan.

“Keris Mustiko Geni!”

Kedua tokoh silat istana ini merasakan dada masing-masing bergetar keras. Keris Mustiko Geni bukan saja merupakan senjata tumbal dan lambang tahta kerajaan, tetapi sekaligus merupakan satu senjata sakti luar biasa. Dan kini senjata itu ada di tangan lawan! Mereka memang juga telah diperintahkan untuk mendapatkan keris tersebut, namun sama sekali tidak menyangka kalau senjata sakti mandraguna itu ternyata berada di tangan Nawang Suri.

“Celaka Buto…” berbisik Gagak celeng. “Kau lihat senjata itu?”

“Kita harus berhati-hati Gagak. Keluarkan jurus-jurus 'Empat Simpai Menjerat Laba-laba'...”

Jurus yang barusan dikatakan Buto Celeng itu adalah jurus terhebat dari ilmu pedang mereka dan selama ini jarang sekali mereka keluarkan. Kini menghadapi lawan yang memegang senjata sakti, keduanya tak mau ambil resiko. Didahului oleh bentakan garang dari mulut Buto, dua bersaudara itu kembali menyerbu. Dua pedang berkelebat dalam udara malam yang dingin, mengeluarkan deru berkesiuran menggidikkan.

Sesuai dengan nama jurusnya maka kehebatannya memang bukan olah-olah. Dua batang pedang seperti berobah menjadi empat dan membentuk sisi empat persegi hingga Nawang Suri seperti laba-laba terkurung dalam sebuah kotak maut!

“Mampus!” teriak Buto Celeng. Pedang di tangannya membabat ke leher.

“Putus nyawamu!” teriak Gagak Celeng tak kalah garang dan pedangnya menusuk ke dada.

Dalam gelap malam tiba-tiba membeset sinar merah. Udara di tempat itu mendadak menjadi panas.

“Awas hantaman keris!” memberi ingat Buto celen. Tapi terlambat.

"Tranggg! Tranggg...!"

Bunga api memercik dalam gelapnya malam. Buto dan Gagak Celeng merasakan tangan masing-masing tergetar keras. Ada hawa sangat panas menghantam ke arah mereka seperti memanggang. Keduanya melompat mundur empat langkah. Ketika memperhatikan pedang di tangan mereka tersentak kaget dan pucat. Kedua senjata itu telah patah buntung disambar Keris Mustiko Geni! Luar biasa dan hampir tak dapat dipercaya oleh tokoh istana itu.

“Bagaimana sekarang? Kalian masih inginkan menangkapmu?!” bertanya Nawang Suri dengan nada mengejek.

“Gadis pemberontak! Apa kau kira kami takut?!” bentak Buto Celeng. Tapi untuk sesaat dia tetap saja tak bergerak di tempatnya. Lalu dia berbisik pada saudaranya. “Gagak, kita harus merampas keris itu lebih dulu. Kalau tidak bisa berabe! Kau menyerang dari kanan, aku dari kiri.”

Dua tokoh silat istana itu dengan andalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang mereka miliki berkelebat cepat. Masing-masing juga kerahkan tenaga dalan pada dua tangan. Memang hanya dengan mengandalkan kecepatan gerakan serta kekuatan tenaga mereka bisa menghadapi lawan yang memegang senjata sakti luar biasa itu.

Meskipun demikian ternyata tetap saja Buto dan Gagak Celeng mengalami kesulitan. Setiap keris menyambar, sinar merah berkiblat menggidikkan dan hawa panas memapas ke arah keduanya. Setelah beberapa kali mencoba dan tetap gagal keduanya merubah siasat.

Sambil menjaga jarak untuk menghindarkan tusukan atau sambaran keris, Buto dan Gagak Celeng lepaskan pukulan-pukulan tangan kosong jarak jauh. Sekaligus mereka mengurung rapat karena bagaimanapun juga mereka tak ingin Nawang Suri lolos. Justru hal ini yang membuat mereka menjadi celaka.

Pada jurus kedua puluh satu Nawang Suri tampak seperti tergelincir di pematang sawah. Tubuhnya miring ke kiri. Melihat ini Gagak Celeng tidak sia-siakan kesempatan. Dia memburu dengan tendangan kaki kanan ke dada sang dara. Di saat itu pula Nawang Suri membuat gerakan membalik sambil sabatkan keris Mustiko Geni.

Terdengar pekik Gagak Celeng ketika senjata sakti itu menggurat dadanya dalam dan deras. Tubuhnya terhuyung-huyung. Kalau tak lekas ditopang oleh Buto Celeng pasti tercebur ke dalam lumpur sawah. Namun di lain kejap Buto Celeng serta merta lepaskan tubuh saudaranya itu.

Tubuh Gagak Celeng terasa panas seperti bara. Pakaian dan kulitnya tampak hangus kehitaman. Gagak Celeng menjerit sekali lagi. Nyawanya lepas. Kedua kakinya tertekuk dan dia jatuh terjerambab ke dalam sawah!

“Gagak!” teriak Buto Celeng memanggil dan hendak memburu. Tapi dia terpaksa menjauh karena saat itu Nawang Suri kirimkan satu tikaman ke arahnya.

Tengkuk Buto Celeng terasa dingin. Rasa takut menggerayangi dirinmya. Berdua dengan Gagak saja dia tak sanggup menghadapi anak murid Empu Andiko Pamesworo itu, apalagi seorang diri. Tak ada jalan lain. Dia terpaksa berispa-siap cari kesempatan untuk melarikan diri. Namun pada saat kesempatan muncul mendadak terdengar suara seruan dari arah timur.

“Sungguh memalukan! Dua tokoh silat istana berkepandaian tinggi tidak mampu membereskan seorang gadis kecil!”

Begitu seruan lenyap, sesosok tubuh muncul dari kegelapan malam dan tegak di kanan Buto Celeng.

LIMA

Merasa dihina Buto Celeng semula hendak membentak marah. Tapi sewaktu dia berpaling dan melihat siapa adanya orang yang barusan datang itu langsung saja dia tegak dengan sikap hormat.

“Ah, kiranya orang gagah Sindu Kalasan tokoh kelas satu bergelar Datuk Tongkat Dari Selatan!”

Orang yang ditegur batuk-batuk beberapa kali. Dia berdiri dengan tangan kiri berkacak pinggang sedang tangan kanan menimang-nimang sebuah tongkat bambu sepanjang tujuh jengkal. Tongkat bambu ini berwarna kuning dan besarnya hanya sejari telunjuk. Diam-diam Buto Celeng merasa gembira. Dalam keadaan seperti iu siapa yang tidak senang melihat munculnya kawan sendiri. Datuk Tongkat adalah tokoh silat istana pertama dan merupakan orang ketiga dari hulubalang istana.

“Melihat pada senjata yang ada di tangannya aku sudah bisa meraba.” Sahut Datuk Tongkat seraya timang-timang tongkat bambu halus yang ada di tangan kanannya.

“Bukankah dia Nawang Suri, orang yang harus ditangkap hidup atau mati?”

“Betul sekali Datuk. Aku dan saudara-saudaraku berhasil menemukan tempat kediaman gurunya di teluk. Empu Andiko telah kami bunuh walau untuk itu adikku Luwak Celeng terpaksa menemui kematian pula. Dan barusan adikku yang lain yaitu Gagak Celeng menemui ajal di tangan gadis ini!”

“Sungguh malang nasibmu Buto. Kehilangan dua saudara dalam satu malam. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Buto Celeng terkesiap. Tak dapat dia menjawab pertanyaan Datuk Tongkat itu.

“Kau ingin menangkap Nawang Suri hidup atau mati, tetapi tak mampu. Betul begitu kan?”

Paras Buto Celeng berubah kemerahan. Dia batuk-batuk beberapa kali sekedar menghilangkan rasa malu dan penasaran. Tapi otaknya sangat cerdik. Dia cepat menjawab.

“Siapa bilang aku tak dapat menangkap Nawang Suri? Dengan bantuan tokoh sehebatmu pasti itu bisa dilakukan! Bukankah ini tugas semua para hulubalang istana?”

Datuk Tongkat alias Sindu Kalasan tertawa mengekeh. Dia tahu betul. Di antara tiga kakak beradik Celeng, Buto adalah yang paling lihay kepandaiannya tapi juga paling cerdik dan licin.

Sambil ketuk-ketukkan tongkatnya ke tanah pematang sawah sang datuk menjawab, “Kalau cuma bocah cilik seperti gadis itu mengapa harus kita berdua Buto. Kau menyingkirlah. Biar aku sendiri yang membereskannya. Tapi ingat satu hal!”

“Hal apakah itu, Datuk?” tanya Buto Celeng tak enak.

“Pada saat aku berhasil menangkap gadis itu hidu-hidup lalu membawanya ke hadapan Sri Baginda di istana, sekali-kali kau jangan mempunyai perasaan bahwa kau andil dalam kerja besar menangkap anak pemberontak ini…”

“Maksud Datuk…?”

“Maksudku jelas! Kau tak akan menerima pahala apa-apa…!”

“Tapi…”

“Tutup mulutmu Buto Celeng! Jangan sampai aku mengusirmu dari tempat ini!” bentak Datuk Tongkat.

“Datuk! Kita sama-sama orang dalam istana. Kenapa kau bicara seperti itu? soal pahala, Sri Baginda nanti yang akan memutuskan. Sri Baginda seorang bijaksana. Bagaimanapun dia tentu tahu dan tak akan melupakan jasa para pembantunya!”

“Begitu…?” ujar Datuk Tongkat menyeringai. Kembali dia ketuk-ketukkan tongkatnya ke tanah.

Setiap dia membuat ketukan, Nawang Suri yang berdiri beberapa langkah dari hadapannya merasakan tanah pesawahan itu seperti bergetar. Getaran itu menjalar ke kedua kakinya, terasa aneh seperti hendak melumpuhkan. Cepat sang dara ini kuatkan hati dan kerahkan tenaga dalam. Tadi dia telah mendengar Buto Celeng menyebut orang berpakaian lurik hitam bergaris coklat dan berblangkon aneh terbuat dari kain beludru itu sebagai tokoh kelas satu istana. Berarti dia berhadapan dengan seorang berkepandaian tinggi luar biasa. Hatinya merasa tidak enak. Tapi tidak enak berarti takut. Dengan tengan gadis in tetap menunggu di tempatnya.

“Bocah cilik. Aku berbaik hati memberikan pilihan padamu. Menyerah secara baik-baik dan kubawa ke Kuto Gede atau kugebuk dulu baru mau ikut…!”

Nawang Suri sunggingkan senyum mengenjek. Lalu gadis ini menjawab. “Manusia berblangkon bludru! Jika kau tadi sudah tahu namaku berarti kau sudah tahu berhadapan dengan siapa. Seharusnya kau dan juga monyet satu itu berlutut memberi hormat. Karena akulah pewaris tunggal dan syah dari tahta kerajaan yang dirampas oleh tuan besarmu yang sekarang berkuasa di Kuto Gede itu!”

“Gadis lancang tak tahu diri!” bentak Buto Celeng.

Sedang Datuk Tongkat Dari Selatan tampak terkesiap mendengar ucapan Nawang Suri. Namun kemudian terdengar suara tawanya mengekeh. “Malam hampir pagi…” Kata sang datuk pula. “Dan kau masih larut dalam mimpi Nawang Suri! Nah serahkanlah dirimu baik-baik tanpa perlawanan!”

“Siapa sudi menyerah! Kalau kau memang punya nama besar tangkaplah diriku!”

Habis berkata begitu Nawang Suri sebatkan Keris Mustiko Geni di tangan kanannya ke depan. Sinar merah menyambar disertai terpaan hawa panas. Datuk Tongkat Dari Selatan yang maklum kehebatan senjata di tangan sang dara bersurut mundur.

“Ha-ha-ha! Malam ini aku berkesempatan membuat dua jasa besar bagi kerajaan. Pertama menangkap anak pemberontak, kedua merampas Keris Mustiko Geni!”

“Ternyata kau yang mimpi Datuk pengkhianat! Kau inginkan keris ini, ambillah!” seru Nawang Suri ditutup dengan sambaran sinar merah dari bawah ke kiri ke atas kanan. Hawa panas menebar menggidikkan.

Untuk kedua kalinya Datuk Tongkat Dari Selatan menghindar cepat. Hanya kali ini sambil mengelak selamatkan perut dan dadanya dari sambaran keris sakti sang datuk yang merupakan orang ketiga teratas dalam barisan hulubalang istana, dia sekaligus putar tongkat bambu kuningnya yang halus. Benda itu seperti berubah menjadi tujuh batang disertai suara bersiur aneh, sangat cepat menyambar ke arah Keris Mustiko Geni.

Nawang Suri yang percaya penuh akan kehebatan senjata di tangannya, apalagi hanya menghadapi sebatang tongkat bambu, putar pergelangan tangannya. Ujung keris laksana kilat menusuk tenggorokan Datuk Tongkat. Yang diserang tampak tenang. Kaki kanannya melangkah ke depan. Tubuhnya dimiringkan ke belakang. Tongkatnya melesat ke atas dan cepat sekali tahu-tahu sudah menempel di badan keris.

“Lepas!” terdengar seruan sang datuk. Tangannya yang memegang tongkat disentakkan ke belakang.

Nawang Suri berseru kaget. Tangna kanannya terasa seperti kesemutan. Jari-jarinya menggeletar membuat genggamannya pada hulu keris mengendur. Sementara itu ujung tongkat lawan terasa seperti merekat badan keris. Ketika tongkat disentakkan, tak ampun lagi Keris Mustiko Geni ikut terpental dan melayang ke udara. Datuk Tongkat tertawa mengekeh.

Buto Celeng leletkan lidah karena kagum. Nawang Suri kembali berteriak. Tapi dia cepat sadar tanggap dan melompat ke udara untuk menjemput kerisnya. Hanya saja gerakannya kalah cepat dengan lompatan Datuk Tongkat. Sang lawan telah lebih dahulu melesat ke udara dan tangan kanannya cepat sekali menyambat ke arah hulu keris.

Tapi sebelum tangan itu sempat menyentuh Mustiko Geni, satu siulan membeset di langit malam. Dan sebuah tangan tahu-tahu berkelebat lebih cepat, memapas senjata sakti itu dari sergapan Nawang Suri maupun Datuk Tongkat.

Dan bukan itu saja. Gerakan sosok tubuh yang tahu-tahu muncul di tempat itu membuat Nawang Suri terpental ke tanah sedang sang datuk terhuyung empat langkah!

“Keparat!” teriak Datuk Tongkat marah. “Siapa berani mencampuri urusan orang?!”

Dia hantamkan tongkatnya ke tanah. Tapi hanya mengenai tampat kosong!

ENAM

Saat itu malam telah menjelang fajar menyingsing. Di kejauhan langit sebelah timur tampak mulai terang kemerahan. Keadaan di pesawahan meskipun masih diselimuti kegelapan namun dalam jarak sampai sepuluh langkah seseorang masih dapat melihat cukup jelas orang lain di hadapannya.

Memandang ke depan Datuk Tongkat, Buto celeng dan Nawang Suri melihat seorang pemuda berpakaian putih-putih dan berambut gondrong tagak menyeringai sambil memegang Keris Mustiko Geni di tangan kanannya.

“Pemuda kurang ajar! Siapa kau berani-beranian ikut campur urusan orang!” membentak Datuk Tongkat. Lelaki berusia enam puluh tahun ini marah bukan main.

Namun sebagai orang pandai yang banyak pengalaman dia tak mau gegabah. Jika seseorang berhasil mendahului kecepatan gerakannnya bahkan sekaligus sempat membuatnya terhuyung, berarti orang itu memiliki tingkat kepandaian yang bukan main-main.

“Manusia lancang ini harus dihajar! Datuk biar aku yang memberi pelajaran padanya!” yang bicara adalah Buto Celeng. Suaranya keras hampir berteriak.

“Bagus Buto, kau berilah pelajaran padanya!” kata Datuk tongkat. Diam-diam dia sengaja memberi kesempatan pada Buto Celeng padahal tujuan sebenarnya adalah untuk melihat sampai di mana kehebatan pemuda yang barusan muncul, dan begitu muncul berhasil merebut keris sakti.

Dengan sikap garang Buto Celeng melompat. Tangan kanannya bergerak menyambar rambut si pemuda untuk dijambak sementara tangan kanan kirimkan jotosan ke dada.

"Buukkk...!"

Tinju Buto celeng tepat melabrak dada pemuda baju putih. Tapi anehnya justru dialah yang kemudian jatuh terjengkang, melintan di atas pematang sawah sambil merintih pegangi tangan kanannya yang tampak lecet. Sementara pemuda yang barusan dihantam tetap tegak tak bergeming malah masih menyeringai seperti tadi!

Malu, kesakitan dan merasa seperti dipermainkan membuat Buto Celeng naik darah. Dia bangkit berdiri. Begitu tegak diahantamkan kaki kanan ke selangkangan si pemuda. Yang diserang keluarkan siulan nyaring lalu kaki kirinya melesat ke depan, mengangkat betis Buto Celeng kuat-kuat ke atas. Akibatnya tak ampun lagi Buto Celeng melintir dan terlempar ke dalam sawah berlumpur. Tubuhnya jatuh menelungkup, sekujur muka dan tubuhnya sebelah depan habis bercelemongan.

Datuk Tongkat Dari Selatan alias Sindu Kalasan gigit-gigit bibirnya. Kalau tidak menyaksikan sendiri tentu dia tak akan percaya ada seorang tokoh silat istana kelas tiga di buat mainan oleh seorang pemuda tak dikenal.

“Orang muda, kau belum menjawab pertanyaanku. Katakan siapa dirimu….!”

Datuk Tongkat buka suara kembali. Bukan menjawab sebaliknya pemuda yang ditanya malah membalik membelakangi sang datuk, lalu melangkah ke hadapan Nawang Suri.

“Adik, apakah keris ini milikmu…?”

Sesaat Nawang Suri diam saja. Kemudian dia menganggukkan kepala.

“Ini senjata bagus. Harganya tak ternilai dan kehebatannya pasti luar biasa. Ambillah dan simpan baik- baik. Jangan sampai kelihatan bangsa pencuri atau perampok seperti dua monyet itu…”

Karena si pemuda bicara dengan suara keras seenaknya saja tentu kata-katanya itu terdengar oleh Datuk Tongkat. “Keparat! Kau benar-benar mencari penyakit pemuda edan…!”

Tapi untuk sesaat Datuk Tongkat tidak tampak bergerak dari tempatnya. Orang ini benar-benar cerdik. Dia sudah sanggup menilai kehebatan pemuda tak dikenal itu. Lalu saat itu dilihatnya Nawang Suri telah pula memegang Keris Mustiko Geni. Kalau dia menyerang berarti bukan pemuda itu yang mencari penyakit, tapi dirinya sendiri. Maka dengan tubuh menggeletar menahan marah dia tetap berdiri di tempatnya.

“Saudara budi pertolonganmu tak kulupakan. Siapakah kau sebenarnya?” Nawang Suri ajukan pertanyaan.

Yang ditanya tertawa dan garuk-garuk kepala. “Aku cuma seorang pemuda pengangguran dan luntang-lantung. Datang jauh dari Gunung Gede…”

“Siapapun kau adanya kau tentu punya nama…”

“Aku Wiro Sableng…”

“Nama aneh!” desis Nawang Suri.

“Begitulah adanya. Monyet itupun menyebutku pemuda edan. Nah, aku tak lebih dari itu. Adik, kau tentu dalam perjalanan jauh. Kau sudah dapatkan kerismu kembali. Mengapa tidak segera pergi meninggalkan tempat ini.”

“Eit! Tunggu dulu! Aku datang kemari untuk menangkapmu dan menyita keris itu. Jika kau memang ingin pergi boleh saja. Tapi tinggalkan nyawa dan Mustiko Geni!” Yang bersuara adalah Datuk Tongkat.

“Ho….ho!” Wiro Sableng tertawa mengejek. “Cakapmu hebat nian kawan!

Siapa kau yang mengaku memiliki nyawa dan harta orang lain?”

“Aku Sindu Kalasan. Bergelar Datuk Tongkat Dari Selatan. Hulubalang ketiga dari istana Kota Gede!”

“Hmmmm… begitu?” ujar Wiro Sableng seperti tak acuh padahal Datuk Tongkat mengira pasti si pemuda akan terkejut bahkan jerih mengetahui siapa dia adanya.

“Seorang tokoh silat tinggi istana beraninya melawan perempuan. Dan ternyata tidak mampu menghadapi gadis ingusan seperti itu!”

Wajah Datuk Tongkat Dari Selatan menjadi merah padam. Wiro Sableng tanpa memperdulikan sang datuk, membalik dan melangkah mendekati Nawang Suri.

“Mengapa belum pergi? Tinggalkan tempat ini. Jika tua bangka berbelangkon aneh itu menghalangimu aku akan memberi pelajaran padanya!”

Wiro melihat ada pancaran rasa tidak senang di wajah sang dara. Sesaat setelah menatap wajah si pemuda, Nawang Suri lalu berkelebat tinggalkan tempat itu. namun Datuk Tongkat cepat memapas sambil hantamkan tongkatnya ke tangan Nawang Suri yang memegang senjata mustika. Maksudnya untuk memukul jatuh keris itu tidak kesampaian karena dari samping dua tangan yang kokoh menelikung pinggangnya, membuat tubuhnya terpuntir.

Ketika dia merasakan tubuhnya hendak dilemparkan ke dalam sawah berlumpur Datuk Tongkat tusukkan tongkat bambu kuningnya ke perut Wiro. Ini adalah satu serangan yang benar-benar mematikan. Bukan saja perut sang pendekar muda itu akan bobol, tapi tongkat akan terus menembus sampai ke belakang punggungnya!

“Mampus!” seru Datuk Tongkat.

Tapi dia kecele. Dengan kecepatan luar biasa Wiro jatuhkan diri ke tanah dan menyelusup di bawah selangkangan lawan. Bagitu sang datuk berada di belakangnya, tanpa menoleh Wiro lepaskan satu jotosan keras ke pinggang Datuk Tongkat. Terdengar sang datuk mengeluh kesakitan. Sebelum tubuhnya terhuyung ke depan, dia masih sempat hantamkan tumit kiri ke bahu lawan hingga Wiropun terjerambab namun cepat mengimbangi diri, membuat lompatan dan dilain saat sudah tegak berdiri.

Saat itu Datuk Tongkat telah pula berdiri. Tubuhnya bergetar menahan gejolak amarah. Seumur hidup baru hari ini dia kena ditempelak lawan, seorang pemuda yang tidak dipandangnya sebelah mata!

“Orang muda! Kau telah membuat kesalahan besar terhadap Kerajaan!”

“Begitu?” seringai Wiro. “Coba katakan apa kesalahanku!”

“Pertama, kau berani mencampuri urusan seorang petinggi istana! Kedua kau berani melawan dan menciderai dua tokoh silat istana yaitu aku dan Buto Celeng! Dan ketiga, ini kesalahanmu yang besar yang tak bisa diampunkan! Kau menolong seorang pemberontak besar. Berarti pada dirimu juga jatuh cap sebagai pemberontak! Untuk semua itu kau layak dibunuh!”

Wiro Sableng manggut-manggut beberapa kali lalu tertawa gelak-gelak. “Jalan pikiran, pertimbangan dan ucapan seseorang memang bisa saja berbeda. Tapi tidak disangka kalau hari ini aku berhadapan dengan seorang hulubalang istana yang mempunyai jalan pikiran, pertimbangan bahkan ucap keputusan yang benar-benar gila!”

“Jangan terlalu menghina, keparat!” bentak Datuk Tongkat.

“Tunggu dulu! Ucapanku belum habis!” balas menghardik Pendekar 212. “Aku tidak ada urusan dengan segala macam pemberontak. Aku tidak merasa telah membuat kesalahan pada segala macam kerajaan. Semua yang kulakukan semata adalah tindakan membela keadilan. Mana bisa aku berpangku tangan melihat seorang perempuan hendak dicelakai oleh seorang berkepandaian tinggi!”

“Alasan kuno! Jangan menganggap kau seorang kesatria sejati! Kepentingan kerajaan adalah lebih utama dari kepentingan pribadi. Apapun alasannya!”

“Lalu…?” tanya Wiro pula.

“Kau harus mampus sebelum matahari muncul pagi ini!”

“Tua bangka ngacok!” maki Wiro. Lalu tanpa perdulikan orang dia balikkan diri untuk meninggalkan tempat itu.

Tapi Datuk tongkat yang sudah tidak dapat lagi menahan amarah dan kesabarannya sudah melompat kirimkan serangan dengan tongkat bambunya. Senjata ini ditusukkan ke depan. Namun setengah jalan mendadak berubah menjadi sambaran pulang balik, merupakan gebukan pada tubuh Wiro kiri kanan!

Tentu saja Wiro tak bisa berdiam diri melihat serangan ganas ini. Setelah membuat lompatan mundur untuk hindarkan hantaman lawan, pendekar ini lepaskan satu pukulan tangan kosong dengan kekuatan seperempat tenaga dalam. Dia terkejut ketika angin pukulan yang deras itu dihantam punah oleh angin deras yang keluar dari tongkat lawan. Tak dapat tidak hulubalang istana tingkat ketiga itu telah mengerahkan lebih dari setengah tenaga dalamnya.

Maka begitu pukulannya luput Wiro bersiap lepaskan pukulan susulan. Tapi Datuk tongkat menyongsong lebih cepat. Tongkatnya langsung dihantam ke arah tangan kanan si pemuda hingga Wiro terpaksa tarik pulang pukulannya sambil melangkah ke samping. Justru tongkat sang datuk secara aneh tiba-tiba membabat ke bawah lengannya dan...

"Brettt...!"

Baju putih Pendekar 212 Wiro Sableng robek besar! Hal ini membuat Wiro bersurut mundur sambil usap dadanya. Untung ujung tongkat hanya menyambar pakaiannya, tak sampai menggurat atau melukai kulit dan daging dadanya. Hal ini sudah cukup membuat murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini harus mengambil keputusan. Akan terus melayani sang datuk atau pergi saja dari situ, mengabil sikap mengalah.

Sebaliknya, keberhasilannya merobek pakaian lawan membuat Datuk Tongkat Dari Selatan jadi bersemangat dan berkeyakinan, apapun tingkat kepandaian yang dimiliki si pemuda, dia pasti dapat membereskan pemuda itu. apalagi Buto Celeng yang masih terkapar di tepi sawah sempat berteriak membakar,

“Bunuh dia Datuk! Pemuda keparat itu harus dibunuh!”

“Kau dengar itu anak muda? Umurmu tak lama lagi…!” Ujar Datuk Tongkat.

Lalu kembali dia menyerbu. Tongkatnya beputar aneh mengeluarkan deru keras dan siuran angin kencang. Wiro berkelebat cepat. Pada satu kesempatan yang tidak disia-siakannya pemuda ini lepaskan pukulan 'Benteng Topan Melanda Samudera'. Datuk Tongkat terkejut ketika dia mendengar suara angin menggemuruh seolah-olah tampat itu diserang angin puyuh yang dahsyat.

Dia sabetkan tongkat bambunya ke depan. Kuda-kuda kedua kakinya diperkuat. Ketika merasakan tubuhnya tak bisa bertahan dan hampir terseret angin kencang itu maka dia hantamkan tangan kiri ke arah lawan dengan pengandalan tenaga dalam yang ada.

Terjadilah hal yang hebat. Daerah persawahan itu bergetar seperti dihantam lindu. Air dan lumpur beterbangan ke udara. Datuk Tongkat berseru keras. Dia melompat ke atas menghindari hantaman angin deras yang menerpa. Tapi begitu melompat begitu tubuhnya terseret dan tunggang langgang di udara. Terpental jatuh masuk ke dalam lumpur sawah. Dadanya mendenyut sakit.

Pemandangannya berkunang-kunang. Dia mencoba berdiri. Tapi kedua kakinya terasa goyah dan tak sanggup diluruskan. Akhirnya dengan nafas megap-megap hulubalang ketiga istana ini hanya bisa merangkak dalam lumpur, berusaha menggapai tepi pematang sawah. Wiro sendiri meskipun tidak jatuh tapi sekujur tubuhnya sampai ke rambut penuh berselomotan lumpur sawah.

“Keparat! Jangan lari kau!” teriak Datuk Tongkat ketika dilihatnya Wiro Sableng melangkah meninggalkan tempat itu sementara matahari telah muncul di ufuk timur dan daerah pesawahan itu kini menjadi terang.

Wiro usap lumpur yang menempel di wajah dan pakaiannya. Lumpur yang memenuhi telapak tangannya kini kemudian dilemparkannya ke arah sang datuk, tepat menghantam pipi dan mata kirinya, membuat sang datuk menggerung bukan saja karena sakit tapi lebih dari itu karena amarah dan penasaran bukan kepalang. Seumur hidup baru sekali ini dia dihantam babak belur seperti itu. Tak berhasil mencegah Wiro meninggalkan tempat itu akhirnya Datuk Tongkat berteriak pada Buto Celeng.

“Bantu aku mencari tongkat bambuku!”

Senjata andalannya itu terlepas dan mental entah ke mana sewaktu angin pukulan sakti Wiro melabrak dirinya tadi.

********************

TUJUH

Meskipun hari malam dan gelap namun tidak sulit bagi Nawang Suri untuk mencari rumah kediaman Gama Manyar alias Empu Soka Panaran yang terletak di pinggiran Kuto Gede. Apalagi di pintu pekarangan depan rumah besar yang berbentuk gapura itu jelas terlihat sebuah bendera kecil berbentuk segi tiga warna biru. Itulah tanda utama yang menjadi petunjuk.

Sesaat setelah memperhatikan keadaan sekelilingnya Nawang Suri cepat memasuki pintu halaman, naik ke serambi rumah. Tanpa ragu-ragu dia mendorong pintu kayu hitam dan menyelinap masuk ke dalam. Begitu dia menutup pintu, seorang lelaki tua berpakaian putih dan berkain sarung biru, meletakkan lempengan perak yang dipegangnya ke atas meja lalu dengan cepat dia berdiri dari kursi, menyongsong Nawang Suri.

“Saya memang sudah punya firasat. Kalau Raden Ayu akan muncul malam ini.” Lalu orang tua yang rambutnya dikonde di atas kepala itu jatuhkan diri berlutut seraya berkata, “Saya Soka Panaran menghaturkan hormat dan bakti pada junjungan Ratu Nawang Suri...”

Nawang Suri merasa tidak enak. Dia memandang ke kiri dan kanan lalu berkata “Empu, harap berhati-hati atas sikap dan ucapanmu. Jika ada yang mendengar kita bisa celaka…”

“Ah, maafkan saya. Saya terlalu gembira bertemu muka dengan Den Ayu hingga melupaken kerahasiaan. Saya hanya seorang diri di sini…”

“Saya tahu. Tapi harap jangan lupa kalau dinding dan atap itu terkadang mempunyai telinga!”

“Petunjuk Den Ayu itu akan saya perhatiken,” ujar Gama Manyar seraya merunduk. Dia memang mempunyai kebiasaan kalau bicara kata 'kan' disebutnya sebagai 'ken'.

“Berdirilah empu…” Kata Nawang Suri yang merasa belum saatnya dihormat seperti itu.

Gama Manyar berdiri lalu membawa Nawang Suri duduk ke sebuah kursi. “Duduklah... Perjalanan jauh tentu membuat Den Ayu kecapaian. Minumlah dahulu…”

Lalu orang tua ini menuangkan air putih dari dalam kendi tanah ke sebuah cangkir. Nawang Suri menghabiskan isi cangkir itu. Dia memandang berkeliling. Di mana-mana dia melihat berbagai ukiran terbuat dari perak.

“Saya lihat Den Ayu tidak melakuken penyamaran sebagaimana mestinya…” Terdengar Gama Manyar berkata.

Nawang Suri mengusap mulutnya di sebelah bawah hidung. Sejak kumis palsunya dijambret dalam perkelahian di sawah malam kemarin memang penyamarannya hanya tinggal pakaian lelaki dan kain putih penutup kepala. Jika orang benar-benar memperhatikan maka kenyataan bahwa dia seorang perempuan akan lebih cepat dapat diduga.

“Apakah Den Ayu menemui kesulitan di jalan?” bertanya Gama Manyar karena ucapan tadi tidak mendapatkan jawaban.

“Memang ada berita buruk empu,” sahut Nawang Suri. Lalu dia menceritakan kematian Empu Andiko Pamesworo seperi yang dikatakan Buto Celeng. Tentu saja Gama Manyar terkejut mendengar hal ini. dia berusaha keras menahan dan membendung air mata agar tidak keluar.

“Tidak disangka dia yang lebih muda ternyata mendahuluiku…” Kata sang empu perlahan.

“Saya berhasil membunuh salah seorang dari mereka. Yang bernama Gagak Celeng. Tapi kemudian muncul seorang tua berbelangkon beludru. Dia mengaku tokoh atau hulubalang istana tingkat ketiga. Buto Celeng menyebut namanya Sindu Kalasan. Bergelar Datuk Tongkat Dari Selatan…”

Paras Gama Manyar alias Empu Soka Panaran berubah ketika Nawang Suri menyebutkan nama itu. “Apa yang kemudian yang terjadi Den Ayu?” tanyanya degan nada cemas.

“Dia hampir saja berhasil merampas Keris Mustiko Geni kalau saja tidak muncul seorang penolong…”

“Keris itu, apakah tetap berada padamu?”

Nawang Suri mengangguk dan menepuk pinggang pakaiannya di balik mana Keris Mustiko Geni tersisip.

“Syukur Gusti…” Kata Gama Manyar lega. “Senjata itu bukan saja merupakan senjata mustika sakti. Tapi yang paling penting itu adalah pelambang tahta kerajaan. Pewaris dan pemegang hanya dialah yang berhak atas tahta, berarti hanya dia yang boleh menjadi Raja atau Ratu!” Gama Manyar diam sebentar. Lalu dia berkata, “Tadi Den Ayu menyebut tentang seorang penolong…”

“Ya, dia menyelamatkan Mustiko Geni dari tangan Datuk Tongkat. Sebelum saya disuruh pergi masih sempat saya melihat dia menghajar Buto Celeng sampai setengah mati…”

“Siapakah orang itu Den Ayu? Apakah dia ada meninggalkan nama?”

“Seorang pemuda edan berambut gondrong…”

“Pemuda edan…?”

“Katanya namanya Wiro Sableng dan dia pemuda luntang-lantung pengangguran dari gunung Gede…”

Mendengar disebutnya nama itu Gama Manyar tertegak dari kursinya dan menatap tajam pada Nawang Suri.

“Ada apakah empu?” tanya sang dara. Dia agak heran melihat sikap orang tua itu.

“Wiro Sableng katamu Den Ayu. Benar?”

“Benar. Memangnya kenapa empu?”

“Ah… ah… ah…” Gama Manyar geleng-gelengkan kepala lalu perlahan-lahan duduk kembali ke kursinya. “Den Ayu, ketahuilah sebenarnya kau sudah sangat beruntung ditolong oleh pemuda itu. Tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya dan mendapat pertolongannya. Dia memang muncul dan malang melintang secara tiba-tiba dan seenaknya…”

“Siapa pemuda itu sebenarnya empu?” tanya Nawang Suri.

“Dia murid seorang nenek sakti di Gunung Gede. Dia seorang pendekar dengan nama besar. Bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Ilmu silat dan kesaktiannya luar biasa. Betapapun tingginya kepandaian Datuk Tongkat, tetap saja dia tak bakal menang menghadapi pendekar nomor satu itu.”

Karena memang belum pernah nama besar Wiro Sableng maka Nawang Suri berkata, “Siapapun pemuda itu adanya saya tak suka padanya, empu!”

“Eh, kenapa kau berkata begitu Den Ayu? Bukankah dia telah menanam budi pertolongan padamu?”

“Soal budi pertolongannya yang besar tentu saja saya tak akan melupakan dan kelak akan saya balas. Tetapi dia menganggap remeh saya!”

“Menganggap remeh bagaimana…?" Tanya Empu Sok Panaran yang dalam penyamarannya telah berganti nama menjadi Gama Manyar.

“Dia menyebut saya sebagai gadis ingusan! Keterlaluan!”

Si orang tua itu tertawa panjang.”Itu tentu saja karena dia tidak mengetahui siapa kau adanya Den Ayu. Seperti katamu tadi, pendekar itu memang suka edan-edanan. Konyol. Tapi sebenarnya dia adalah seorang berhati polos. Suka menolong. Nama besarnya muncul dalam dunia persilatan setelah dia menghancurkan manusia-manusia dan memusnahkan perserikatan-perserikatan jahat. Menghantam tokoh-tokoh silat golongan hitam!”

“Apakah dia berada di pihak kita atau bagaimana?” tanya Nawang Suri pula.

“Setahuku dia tidak pernah berpihak pada satu golongan. Pegangan hidupnya adalah berpihak pada kebenaran dan keadilan…”

“Kalau begitu apakah ada kemungkinan kita meminta bantuannya?”

“Sulit bagi saya untuk mengatakan ya. Saya tahu betul. Pendekar semacam dia sering kali bersikap aneh. Jika dia ingin menolong, dia akan turun tangan tanpa diminta. Tapi kalau diminta justru malah belum tentu dilakukannya…”

“Jika demikian tak usah kita membicarakannya lebih panjang.”

“Den Ayu betul. Sebelum kemari apakah sahabat tua ku Empu Andiko ada memberi petunjuk apa yang akan kita lakukan untuk menghancurkan kerajaan dan pada akhirnya membunuh Sri Baginda?”

Nawang Suri mengangguk. “Sebetulnya cara yang hendak ditempuh itu kurang berkenan di hati saya, empu. Namun mengingat kita tidak mempunyai kekuatan, tidak memiliki bala tentara dan para pendukung terpecah-pecah serta saling berjauhan tanpa ada pimpinan, maka untuk sementara saya bersedia menempuh cara itu. pada saatnya nanti tetap kita harus menggalang kekuatan berupa bala tentara…”

“Saya mengerti maksud Den Ayu. Dan saya menurut serta setuju sekali. Saya telah menghubungi beberapa orang tertentu di Kuto Gede. Tapi selagi masa hangat begini rupa, Den Ayu tahu sendiri bagaimana besarnya bahaya menghubungi orang-orang itu. Karenanya rencana yang sudah kita tetapkan harus terlebih dahulu dijalankan…”

“Kapan kita mulai Empu?”

“Dua hari lagi Den Ayu. Seorang penting akan datang kemari. Dia adalah korban kita yang pertama.”

“Siapakah dia empu?”

“Pangeran Onto Wiryo. Putera Sri Baginda dari istrinya yang kedua. Saat ini dia memegang jabatan Kepala Pasukan Kuto Gede. Ada kabar dia akan diangkat jadi Kepala Pasukan Kerajaan…”

Nawang Suri mengusap-usap dagunya yang halus. “Dia memang cukup pantas untuk jadi korban pertama…” Katanya perlahan. Jari-jari tangannya tampak terkepal. Tanda tekadnya sangat bulat dan kukuh.

*******************

DELAPAN

Siang itu rombongan orang berkuda memasuki halaman rumah Gama Manyar, ahli ukir barang-barang perak terkenal di seluruh Kuto Gede. Di depan sekali seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahun, berpakaian mentereng, lengkap dengan sebilah keris tersisip di pinggang. Lima orang lainnya berpakaian pasukan kerajaan bertindak sebagai pengiring dan pengawal. Lelaki muda berpakaian mewah itu turun dari kudanya diikuti oleh lima pengawal.

“Kalian tunggu di luar sini. Aku tak akan lama…” kata si lelaki muda.

Kelima pengirngnya menjura patuh. Dengan langkah besar dan tegap lelaki tadi masuk ke dalam rumah. Di pintu depan Gama Manyar keluar menyongsong.

“Paman Gama, apakah pesananku tempo hari sudah selesai?” sang tamu ajukan pertanyaan.

Gama Manyar menjura hormat sebelum menjawab. “Sudah siap Raden. Hanya menurut saya kalau mungkin bisa diberi satu hari lagi saya akan memperhalus beberapa bagian yaitu pada bagian sayap dan ekornya. Tapi silahkan Pangeran masuk dahulu…”

“Ya, ambillah barang itu. Aku perlu melihatnya dahulu!”

Gama Manyar memberi jalan pada tamunya lalu menutup pintu kembali. Setelah mempersilahkan sang tamu masuk maka diapun melangkah ke tengah ruangan, memanjangkan lehernya ke pintu ruang tengah seraya berseru.

“Ratih…! Bawa kemari pesanan Pangeran Onto Wiryo. Beliau sudah datang untuk melihatnya…”

Pangeran Onto Wiryo hendak menanyakan sesuatu namun mulutnya terkancing ketika di pintu ruangan tengah muncul sesosok tubuh yang elok, dilengkapi paras cantik jelita mempesona. Kedua bahunya yang tidak tertutup sangat halus dan putih, dihias uraian rambut hitam berkilat dan menebar bau harum.

Yang muncul ini datang membawa sebuah ukiran perak berbentuk seekor burung garuda mengembangkan sayap. Di punggung binatang ini duduk dengan sikap gagah seorang berpakaian perwira tinggi dengan tangan kanan memegang sebilah tombak. Melihat paras perwira pada ukiran perak itu jelaslah mirip Pangeran Onto Wiryo, sang tamu.

Sepasang mata sang pangeran tidak tertuju pada ukiran burung garuda dan patung dirinya di atas punggung binatang itu, tetapi tertancap pada sang dara yang membawanya.

“Ratih…” Kata Gama Manyar. “Ini Pangeran Onto Wiryo. Kepala pasukan Kotaraja. Beri hormat padanya…”

Sang dara yang dipanggil dengan nama Ratih, yang bukan lain adalah Nawang Suri membungkuk dalam-dalam. Ketika hendak mengambil sikap duduk di lantai, sang pangeran yang sejak tadi terpana terpesona cepat membungkuk, memegang bahunya dan menyuruhnya berdiri kembali. Ketika Pangeran Onto Wiryo berpaling pada Gama Manyar, orang tua ini segera maklum akan arti pandangan itu. maka diapun memberi keterangan.

“Harap maafkan Pangeran. Saya tak pernah menerangkan kalau saya masih memiliki seorang anak keponakan. Dia baru saja datang dari pantai utara. Saat ini dia hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya dan seorang adik lelakinya menemui ajal sebulan yang lalu akibat gunung longsor. Itulah sebabnya saya memintanya datang kemari dan tinggal di sini sambil membantu pekerjaan saya…”

Pangeran Onto Wiryo mengangguk-angguk. Kedua matanya hampir tak berkesip.

“Apakah Pangeran tidak hendak melihat dulu ukiran itu…?"

Sang pangeran yang hampir terlupa akan maksud kedatangannya ke tempat itu seperti tersentak lalu cepat-cepat mengambil ukiran perak dari tangan Ratih. Sewaktu mengambil benda itu, Gama Manyar jelas melihat bagaimana jari-jari tangan sang pangeran sengaja mengelus jari-jari Nawang Suri. Pangeran Onto Wiryo memperhatikan ukiran burung garuda dan dirinya hanya sebentar saja.

“Bagus! Sangat bagus! Tak perlu diperhatikan lagi paman Gama! Aku cukup senang menerimanya!” Lalu mata sang pangeran kembali mengerling Ratih. Sesaat kemudian dia berkata, “Paman Gama, aku ingin berbicara sesuatu denganmu…”

Orang tua juru ukir sudah maklum maksud sang pangeran. Dia memberi isyarat pada Nawang Suri sambil berkata, “Masuklah Ratih…”

Ratih menjura hormat pada sang pangeran lalu cepat-cepat masuk ke dalam. “Paman Gama, kau yakin keponakanmu itu belum bersuami. Betul?”

“Betul pangeran…”

“Bagus! Kalau begitu tak ada halangan bagiku untuk mengambilnya jadi istri…!”

Gama Manyar tempak terkejut. Walau ini sebenarnya lebih merupakan satu kepura-puraan belaka. “Pangeran bergurau agaknya…”

“Aku tidak bergurau paman!”

Orang tua itu tertawa. “Dengar pangeran. Keponakanku hanya seorang turunan rakyat jelata. Bahkan tidak berayah dan tidak beribu lagi. Mana pantas dirinya dijadikan istri pangeran?”

“Soal pantas atau tidak bukan urusan. Lagi pula bagiku itu merupakan hal yang pantas. Lebih dari pantas. Terus terang baru sekali ini aku melihat gadis secantik dia…”

“Ah, pengeran baru sekali ini saja melihatnya. Belum tentu dia bisa menjadi istri yang baik…”

“Paman…” Kata Pangeran Onto Wiryo. “Sebagai seorang perajurit, mataku sangat tajam. Aku tahu dan yakin sekali, keponakanmu itu seorang yang baik. Katakan padanya aku akan mengambilnya jadi istri!”

“Secepat itukah pangeran?”

“Lebih cepat lebih baik!”

“Ah, saya tak berani mengatakan pada Ratih…” ujar Gama Manyar lalu pura-pura termenung.

“Jika begitu biar aku yang bilang padanya!”

“Pangeran terlalu mendesak. Berilah waktu dua hari pada saya. Di saat yang baik akan saya sampaikan pada gadis itu maksud pangeran…”

“Dua hari terlalu lama. Satu hari saja! Besok, siang seperti ini aku akan datang lagi kemari…”

Dari dalam sabuk besar di pinggangnya Pangeran Onto Wiryo mengeluarkan empat keping mata uang perak dan menyerahkannya pada si orang tua. “Ini untuk pembayar ukiran…”

“Tapi ongkosnya hanya dua keping uang perak pangeran.”

“Aku tahu. Yang dua keping adalah sekedar pemberian dariku.”

“Terima kasih. Pangeran baik sekali…”

“Nah, aku pergi sekarang. Ingat paman Gama. Besok siang aku akan datang lagi kemari…”

“Sebelum pangeran pergi saya ada beberapa permintaan…”

“Ah, katakanlah. Kau ingin pinjam uang atau apa?”

Si orang tua mengeleng. “Permintaan saya, apakah pangeran bisa datang besok seorang diri saja?”

“Tentu ! kenapa harus begitu paman?” tanya Pangeran Onto Wiryo.

“Saya tak ingin orang lain ikut tahu akan maksud pangeran…”

“Itu soal mudah. Aku akan datang sendiri ke mari. Tanpa pengawal. Kalau perlu dengan pakaian biasa!”

“Itu lebih baik pangeran. Ketahuilah, sebenarnya Ratih sudah pernah dicalonkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda di Kemukus…”

“Lupakan pemuda itu paman. Aku ini jelas sejuta kali lebih baik dari dia…”

“Saya tahu pangeran. Satu lagi, tentunya kalau nanti Pangeran jadi mengawini keponakan saya, urusan dengan dua istri pangeran yang sekarang janganlah sampai menjadi pangkal silang sengketa di antara keluarga.”

“Ha-ha-ha! Sampai berapa aku punya istri tak ada yang bisa ikut campur. Baik Sri Baginda, apalagi kedua istriku...”

“Kalau bagitu senang hati saya mendengarnya,” kata Gama Manyar pula lalu mengantarkan Pangeran Onto Wiryo sampai di pintu pagar halaman.

SEMBILAN

Keesokan harinya, tepat pada saat sang surya mencapai titik tertingginya di atas bumi, Kepala Pasukan Kotaraja Pangeran Onto Wiryo muncul di rumah juru ukir Gama Manyar. Sesuai permintaan si orang tua, Pangeran ini datang berkuda seorang diri dan tidak mengenakan pakaian keperwiraan.

“Paman Gama, aku sudah datang. Mana keponakanmu. Tentunya saat ini aku akan menerima berita menggembirakan!” kata Pangean Onto Wiryo begitu berhadapan dengan Gama Manyar.

“Tak lama setelah pangeran pergi hari kemarin, saya telah menemui Ratih dan menceritakan apa yang menjadi maksud pangeran. Dia tidak memberikan kata putus. Tapi percayalah pangeran, Ratih pasti bersedia menjadi istri pangeran. Hanya saja katanya dia ingin bicara langsung dengan pangeran…”

“Kalau begitu panggil dia kemari agar segala pembicaraan dapat dilakukan secara cepat,” kata Pangeran Onto Wiryo pula penuh tidak sabar.

“Gadis itu tidak ada di sini,” menjelaskan Gama Manyar.

Kedua mata Pangeran Onto Wiryo membesar dan alisnya naik terjungkat. “Apa maksudmu Paman? Keponakanmu tak ada di sini?"

“Betul… Menjelang siang tadi dia pergi ke telaga Tegal Parang di timur Kuto Gede. Dia menunggu di sana dan berpesan agar pangeran datang menemuinya di situ. Dia sengaja memilih tempat tersebut karena bisa bicara bebas. Tak ada yang melihat, tak ada yang mendengar… Apakah pangeran berkenan datang ke situ menemuinya?”

Pangeran Onto Wiryo tertawa lebar. “Tentu saja! Tentu saja aku akan menemuinya di telaga itu!” jawabnya.

Lalu tanpa menunggu lebih lama dia cepat-cepat meninggalkan rumah Gama Manyar, membedal kudanya kencang-kencang menuju ke timur.

********************

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng Karya Bastian Tito

Tegal Parang merupakan sebuah telaga kecil tetapi dalam. Di sekelilingnya terdapat batu-batu besar berwarna hitam, lali pohon-pohon tinggi berdaun lebat. Daun-daun yang aneka warna dari pepohonan memantul ke dalam air hingga air telaga itu terlihat seperti berwarna-warni.

Ketika sampai di sana, Pangeran Onto Wiryo segera melihat sesosok tubuh yang elok duduk di atas sebuah batu, membelakanginya. Pengeran ini melompat turun dari kudanya, langsung mendapatkan perempuan yag duduk di atas batu.

“Sudah lamakah kau menungguku di sini Ratih…?” pangeran menegur.

Orang di atas baru yang memang adalah Ratih alias Nawang Suri menjura hormat, namun dia tidak turun dari batu besar itu. Pangeran Onto Wiryo ikut duduk di atas batu, dekat sekali dengan Ratih hingga dia dapat mencium bau harum yang keluar dan menebar dari tubuh serta rambut sang dara.

“Indah sekali pemandangan di telaga ini,” kata sang pangeran.

“Apakah pangeran sering datang kemari?” tanya Ratih.

“Aku sering lewat di sekitar sini namun tak pernah mampir, apalagi duduk-duduk di batu seperti saat ini…”

“Apakah pangeran tidak marah karena berlancang diri menyuruh pangeran datang kemari?”

“Kalau aku marah, aku tak akan datang. Lagi pula yang akan kutemui adalah calon istriku sendiri!”

Ratih tersenyum, membuat sang pangeran tambah mabuk kepayang. “Jadi pangeran rasa pasti kalau saya suka dan bersedia menjadi istri pangeran yang ketiga?”

“Aku merasa pasti. Eh, memang kenapa sampai kau bertanya begitu? Mungkin…?” Pangeran Onto Wiryo merasa tak enak. Matanya memandang tak berkedip lalu tangannya menjamah bahu putih halus Ratih.

Kembali sang dara tersenyum. “Saya ingin memperlihatkan sesuatu. Bolehkan…?"

“Tentu, tentu saja. Apa yang ingin kau perlihatkan Ratih?” mendadak saja darah sang pangeran terasa panas dan dadanya berdebar.

Tangannya yang memegang bahu turun mengusap bagian bawah leher Ratih. Tangan kanan Ratih saat itu turun ke pinggang memegang setagennya, makin keras debar jantung sang pangeran. Gadis ini hendak membuka pakaiannya. Lalu… ingin memperlihatkan auratnya?

Namun Ratih sama sekali tidak membuka gulungan setagen itu dia mengeluarkan sebilah keris. Lalu diperlihatkan pada Pangeran Onto Wiryo seraya bertanya, “Tahukah pangeran, apa yang ada di tangan saya ini?”

“Keris! Sebilah keris!” sahut Pangeran Onto Wiryo.

“Maksudnya saya keris apa? Biasanya setiap senjata itu selalu diberi nama... dapatkah pangeran menerangkannya?”

Pangeran Onto Wiryo memang pernah mendengar tentang Keris Mustiko Geni. Tapi seumur hidup dia belum pernah melihatnya. Karenanya tentu saja dia tak tahu nama keris yang diperihatkan Ratih.

“Sulit bagiku menerka keris itu. Apakah itu penting? Dan ada hubungannya dengan maksudku mengambilmu jadi istri?”

“Betul sekali pangeran. Senjata ini ada hubungannya dengan maksud pangeran itu...”

“Kau... kau akan memberikannya padaku atau bagaimana?” tanya Pangeran Onto Wiryo. Makin lama makin tak mengerti dia apa yang sedang dituju oleh gadis jelita itu.

“Apakah pangeran ingin memilikinya?" bertanya Ratih.

“Ah... kau baik sekali. Aku benar-benar sangat terkesan akan sifat pribadi dirimu, Ratih. Tapi aku tak menginginkan keris itu. aku menginginkan dirimu…” jari-jari tanan sang pangeran yang mengelus-elus leher sang dara bergerak turun, menyapu di bagian dada yang membusung lembut.

“Pangeran belum melihat badan keris ini. Akan saya perlihatkan pada pangeran,” kata Ratih lalu perlahan-lahan mencabut keris Mustiko Geni dari sarungnya.

Begitu keris keluar dari sarangnya, sinar merah memancar menyilaukan dan hawa panas membersit membuat Pangeran Onto Wiryo terkesiap dan bergerak mundur, menatap senjata itu dengan pandangan kagum.

“Senjata luar biasa!” katanya memuji. Ini pasti senjata sakti…”

“Benar pangeran. Ini memang senjata sakti. Dan akan saya buktikan kesaktiannya!” selesai berkata begitu, tiba-tiba Ratih alias Nawang Suri menusukkan Keris Mustika Geni ke dada Pangeran Onto Wiryo.

Pangeran ini berseru kaget dan cepat menepis dengan tangan kanannya. Meskipun dia dapat menyelamatkan dada namun lengannya tersayat dalam. Darah mengucur deras. Hawa sangat panas seperti memanggang tubuhnya. Pangeran ini menjerit kesakitan. Kulit tubuhnya perlahan-lahan tampak menghitam. Pakaiannya berubah kecoklatan seperti hangus.

Pangeran Onto Wiryo menjerit terus. Karena tak sanggup lagi menahan hawa panas yang membakar tubuhnya, dia lari menceburkan diri ke dalam telaga Tegal Parang. Namun air telaga yang sejuk itu tak dapat melenyapkan hawa panas tersebut. Tubuh sang pangeran nempak menggeliat. Tangan dan kakinya melejang-lejang. Asap mengepul dari tubuh itu tak beda sebuah benda panas dicelupkan ke dalam air. Tak lama kemudian tubuh itu tak bergerak lagi dan perlahan-lahan tenggelam lenyap dari permukaan telaga.

Ratih alias Nawang Suri jatuhkan diri, berlutut di tepi telaga seraya mengacungkan Keris Mustiko Geni yang masih terbungkus darah. Dari mulutmya terdengar ucapan.

“Ayah… ibu! Korban pertama jatuh sudah! Doakan agar anakmu dapat melanjutkan pembalasan agar sakit hati dan dendam berkesumat terbalaskan. Agar tahta Kerajaan kembali ke tangan kita...”

Masih ada beberapa patah kata lagi sebenarnya akan diucapkan gadis itu. namun telinganya yang tajam mendengar suara semak belukar terkuat, disusul oleh langkah-langkah kaki datang mendekat. Nawang Suri melompat bangkit dan membalik. Keris Mustiko Geni siap di tangan.

“Kau!” seru gadis itu ketika melihat siapa yang tegak di depannya.

“Kau juga!” balas orang yang barusan datang. “Apa yang kau perbuat di sini…?"

“Kau tak layak bertanya yang bukan urusanmu!” Dalam hatinya Nawang Suri bertanya-tanya apakah pemuda di hadapannya itu tahu atau menyaksikan apa yang terjadi.

“Kau betul. Aku tak layak mencampuri urusanmu. Hanya saja tadi aku mendengar suara orang menjerit-jerit… dari arah sekitar sini.”

“Mungkin hanya pendengaranmu yang menipu diri sendiri. Tak ada yang menjerit di sini. Barangkali juga suara setan yang kau dengar. Lagi pula bukankah kau sendiri mengaku berotak miring. Jadi apapun yang kau dengar hanya perasaan belaka!”

Pemuda di hadapan Nawang Suri yang bukan lain adalah Wiro Sableng tertawa bergelak. “Ya, beginilah nasib orang sableng. Tapi aku melihat darah di keris mustika itu. Eh, kau masih saja main-main dengan benda itu. Bukankah sudah kukatakan agar disimpan baik-baik…?”

Nawang Suri memasukkan Keris Mustiko Geni ke dalam sarungnya tanpa membersihkan noda darah. Lalu menyimpannya di balik setagen.

“Nah, sudah kusimpan!” katanya. “Sekarang kau pergilah dari sini. Antara kita tidak ada apa-apa lagi!”

“Eh, mentang-mentang kau kini berdandan dan berpakaian cantik bagus…”

Nawang Suri tak lagi mengacuhkan Wiro. Dia melangkah ke balik serumpun semak belukar. Dari balik semak-semak ini dia mengambil sebuah buntalan. Dari buntalan dikeluarkannya sehelai pakaian dan celana putih, juga sehelai sapu tangan besar berwarna putih yang biasa dipakai untuk ikatan atau penutup kepala. Dengan cepat Nawang Suri mengenakan pakaian putih itu.

Lalu menyingsingkan kainnya tinggi-tinggi sehinga kakinya sampai sebatas pertengahan paha terlihat jelas dan membuat sepasang mata Wiro Sableng terbuka lebar-lebar menyaksikan pemandangan ini. Sebaliknya seperti tak acuh Nawang Suri terus saja mengenakan celana panjang putih. Selesai berpakaian dia menutupi kepalanya dengan sapu tangan. Lalu dari kantong baju putih diambilnya sebuah kumis palsu, langsung dipasangnya di bawah hidung.

Sambil garuk-garuk kepala Wiro Sableng berkata, “Kau ini mestinya seorang pemain sandiwara yang cekatan!”

“Dengar sableng…!” kata Nawang Suri.

Sikapnya tegas tapi justru membuat Wiro tak dapat menahan tawa. “Aku akan meninggalkan tempat ini. Awas kalau kau berani mengikuti!”

“Kau benar-benar gadis aneh! Apa arti semua ini...?!” tanya Wiro.

Tapi dia tak mendapat jawaban. Sang dara berkelebat dan lenyap di balik belukar tinggi. Ketika Wiro bergerak hendak mengejar, sebuah benda laksana anak panah melesat menyambar ke arah kepalanya. Cepat-cepat pendekar ini merunduk selamatkan diri. Benda itu ternyata patahan sebuah ranting kayu.

“Gadis aneh tapi nekad!” desis Wiro.

********************

SEPULUH

Hari pertama lenyapnya Pangeran Onto Wiryo mulai mendatangkan keresahan dikalangan istana, termasuk Sri Baginda, Kepala Pasukan Kerajaan dan tentu saja anak istrinya. Siang hari kedua ketika sang pangeran masih juga belum muncul, keresahan itu berubah menjadi kecurigaan. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi dengan dirinya.

Lalu hal ini dihubungkan dengan keadaan kerajaan yang masih belum aman karena diketahui ada kelompok-kelompok pemberontak yang berusaha menimbulkan kekacauan. Sembilan kelompok pasukan segera dibentuk untuk melakukan pencarian. Pagi hari ketiga mayat pangeran Onto Wiryo diketemukan terapung di telaga Tegal Parang. Kotaraja dan seluruh kerajaan menjadi gempar.

Mayat sang pangeran ditemukan dalam keadaan rusak menggembung namun masih dapat dikenali. Apalagi di tepi telaga kemudian ditemukan pula kuda tunggangannya. Yang menjadi pertanyaan mengapa saat itu Pangeran Onto Wiryo hanya mengenakan pakaian biasa. Lalu bekas luka pada tangannya menguatkan dugaan bahwa pangeran ini menemui ajal bukan karena kecelakaan biasa, tapi seseorang telah membunuhnya, lalu melemparkan mayatnya ke dalam telaga.

Kerajaan berkabung selama dua minggu. Sebelum jenazah dimakamkan keesokan harinya, terlebih dahulu disemayamkan di pendopo besar istana. Ratusan pejabat tinggi kerajaan termasuk para adipati dari berbagai penjuru datang melayat. Bahkan di bawah penjagaan ketat rakyat jelata juga diberikan kesempatan untuk menyatakan rasa duka cita mereka.

Sementara itu para pimpinan pasukan dibantu oleh tokoh-tokoh silat istana secara diam-diam melakuan penyelidikan sebab musabab kematian Pangeran Onto Wiryo. Larut malam sebelum Sri Baginda masuk ke peraduannya Patih Kerajaan diminta datang menghadap. Sesuai dengan suasana yang dihadapi sang patih menduga bahwa pemanggilan itu tentu saja ada seluk beluknya dengan upacara pemakaman besok. Namun alangkah terkejutnya patih ini karena Sri Baginda hanya bicara sedikit, lalu menanyakan sesuatu.

“Paman Patih, sewaktu orang banyak diberi kesempatan melayat, aku melihat seorang tua berpakaian serba putih, yang kukenal dengan nama Gama Manyar. Ahli ukir barang-barang perak. Apakah kau melihatnya siang tadi…?"

Patih Wulung Kerso yang sudah berusia lanjut mengangguk. “Tentu saja saya melihatnya, Sri Baginda.”

“Apakah kau juga melihat gadis berparas cantik yang datang bersamanya?’ tanya Sri Baginda lagi.

“Ya, saya melihat gadis itu.”

“Siapakah gadis itu Paman Patih?”

“Tak sempat saya selidiki. Kehadirannya memang menarik banyak perhatian karena kejelitaan parasnya dan kehalusan kulitnya. Apakah Sri Baginda menaruh kecurigaan terhadap gadis itu atau terhadap Gama Manyar?”

Raja tersenyum dan mengusap-usap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar. “Jauh dari itu paman. Baru kali ini aku melihat perawan secantik itu. Kurasa dia merupakan perempuan tercantik di seluruh kerajaan… Apa pendapatmu Paman?”

“Saya rasa begitu Sri Baginda,” menjawab sang patih. “Aku ingin menambah perbendaharaan isi keputren.”

Mendengar kata-kata sang raja, Patih Wulung Kerso angkat kepala. Kini dia tahu apa sebenarnya maksud Sri Baginda memanggilnya. Sungguh tidak habis pikir patih tua ini. Dalam suasana berkabung begitu rupa, malah jenazah Pangeran Onto Wiryo masih belum dimakamkan, sang ayah, Raja di kerajaan itu telah memikirkan bahkan tertarik pada seorang gadis dan bermaksud mengawininya. Dunia hampir kiamat agaknya!

“Kenapa kau terdiam Paman Patih?” Sri Baginda bertanya.

“Ah… Saya perlu petunjuk lebih lanjut Sri Baginda.” Kata Patih Wulung Kerso.

“Aku ingin mengambil gadis itu. Apa kau masih belum jelas?”

“Sebagai istri atau gundik, Sri Baginda?” Raja tertawa lebar. “Menurutmu bagaimana?”

“Sebagai istri tentu saja tidak mungkin. Karena maaf Sri Baginda. Sri Baginda sudah punya empat istri. Berarti sebagai gundik saja…”

“Bagus kalau kau mengerti begitu. Sekarang kau kutugaskan untuk emnghubungi Gama Manyar, menyelidiki siapa adanya gadis itu dan sekaligus mengatakan maksudku mengambilnya sebagai gundik...”

“Saya akan melakukannya Sri Baginda. Namun harap maaf mengingat kita masih dalam suasana berkabung, apa maksud itu tidak bisa ditunda sampai empat belas hari?"

“Empat belas hari terlalu lama Paman patih. Besok selesai upacara pemakaman kau utus seseorang untuk memanggil Gama Manyar dan sampaikan maksudku. Katakan pada orang tua itu, apapun hubungan gadis itu dengan dirinya itu satu kehormatan baginya. Kelak dia akan kuangkat jadi juru ukir istana. Berarti dia akan menerima sejumlah tunjangan setiap bulan dari istana…”

“Kalau begitu titah Baginda, saya akan melaksanakannya. Saya mohon diri. Hari hampir pagi…”

Sebagai seorang patih ternyata Wulung Kerso bukan seorang yang bisa menahan rahasia. Maksud Sri Baginda hendak mengambil gadis yang datang bersama Gama Manyar sebagai gundik dituturkannya pada beberapa pejabat istana. Salah seorang yang akhirnya mengetahui hal itu adalah Sindu Kalasan, tokoh silat yang dikenal dengan gelar Datuk Tongkat Dari Selatan.

“Sebagai seorang Raja tentu saja Sri Baginda bisa berbuat begitu,” kata Datuk Tongkat berbisik-bisik pada Patih Wulung Kerso. Saat itu mereka bersama yang lain-lainnya berada di pendopo di mana jenazah Pangeran Onto Wiryo bafu saja selesai dimandikan. “Hanya, apakah tidak perlu asal usul gadis itu diselidiki lebih dulu?”

“Seharusnya memang demikian. Namun mengingat dia datang bersama Gama Manyar, orang tua yang termasuk dalam daftar bersih, maka hal itu rasanya bisa dilupakan. Hanya menurutku waktunya yang kurang tepat. Terlalu tergesa-gesa memikirkan gundik jelita. Padahal puteranya dikubur pun belum!”

Datuk Tongkat hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata sang patih. Sebentar-sebentar dia meraba pinggangnya.

“Kelihatannya kau kurang sehat...?”

“Sakit pinggangku kambuh lagi,” jawab sang datuk. Padahal rasa sakit di pinggangnya itu adalah bekas hantaman pukulan Wiro Sableng beberapa hari lalu. Setelah berpikir-pikir sejenak Datuk Tongkat berkata, “Terus terang gadis itu memang cantik sekali. Kulitnya halus luar biasa. Rambutnya yang hitam tebal dan panjang membuat mata lelaki tak bisa lepas dari memandangi wajah dan auratnya. Tak salah kalau Sri Baginda sangat terpikat. Aku rasa-rasanya pernah melihat gadis itu sebelumnya. Tapi sulit kuingat di mana dan kapan...”

Patih Wulung Kerso menepuk-nepuk bahu sang datuk seraya berkata, “Itu hanya rasa-rasamu Datuk. Begitu sifat lelaki jika melihat perempuan cantik. Aku kawatir kaupun terpikat…”

“Kau betul. Tapi siapa yang berani bersaing dengan Sri Baginda?"

********************

Menjelang rembang petang setelah siangnya dilakukan pemakaman jenazah Pangeran Onto Wiryo, seorang utusan Ptih Kerajaan datang ke tempat kediaman juru ukir Gama Manyar.

“Pak juru ukir, kau diminta datang menghadap Patih Wulung Kerso sekarang juga,” sang utusan menyampaikan pesan.

Diam-diam Nawang Suri ikut mendengarkan pembicaraan dari ruangan sebelah.

“Jika Patih Kerajaan menyuruh menghadap pasti ada sesuatu yang penting. Mungkin menyangkut soal ukir-mengukir. Apakah sebagai utusan kau mengetahui maksud Patih Kerajaan memanggilku?” bertanya Gama Manyar. Baginya pemanggilan dirinya hanya berarti dua. Dirinya dicurigai. Atau jeratnya sewaktu membawa Nawang Suri melayat ke istana sudah tepat mengenai diri Sri Baginda yang diketahuinya memang seorang lelaki mata keranjang.

“Saya hanya seorang suruhan pak juru ukir. Mana saya tahu maksud Patih. Harap bapak ikut saya sekarang. Kereta sudah disiapkan di luar…”

“Kereta?” membatin Gama Manyar.

“Hmmmmm… Kalau begitu mungkin sekali jeratku sudah mengena. Jika bukan untuk satu berita yang kutunggu-tunggu mana mungkin patih mengirimkan kereta untuk menghormatiku. Jika aku dicurigai pasti serombongan pasukan sudah mengurung rumah ini!”

Gama Manyar menganggukkan kepala pada utusan yang datang. “Baiklah, sebelum pergi aku akan memberitahukan keponakanku dulu,” katanya.

Beberapa saat sebelum matahari terbenam, Gama manyar kembali, diantar dengan sebuah kereta. Begitu masuk ke rumah, Nawan Suri langusng menemuinya. Si orang tua mengintai dari balik jendela. Setelah memastikan orang yang tadi mengantarnya telah pergi jauh baru dia membalik dan berkata,

“Sungguh tidak kusangka. Rencana kita akan terlaksana lebih cepat dari yang diduga. Jerat yang kita pasang telah mengena!”

“Apa yang telah terjadi Empu?”

“Sri Baginda melihat Den Ayu sewaktu melayat kemarin. Tadi sore Patih Wulung Kerso meminta saya menghadap. Memberi tahu kalau Sri Baginda telah memutuskan mengambil Den Ayu sebagai gundiknya…”

“Kalau begitu kita harus menyusun rencana lebih terperinci. Pertama mengatur saat yang tepat kapan saya harus membunuh Raja. Lalu kapan orang-orang kita menyerbu istana mengambil alih kekuasaan…” Nawang Suri nampak sangat bersemangat.

“Karena waktu hanya sedikit, kita harus bertindak cepat Den Ayu. Malam ini juga saya akan menemui orang-orang kita di Susukan. Sri Baginda akan memboyong Den Ayu ke istana dua hari di muka. Pada malam pertama dia memasuki kamar Den Ayu, itulah saatnya dia harus dibunuh. Saya nanti akan membuatkan peta istana hingga Den Ayu bisa mudah menyelinap melarikan diri. Menjelang pagi Den Ayu sudah harus muncul kembali memimpin orang-orang kita merebut istana…”

“Bagaimana dengan tugas juru masak rahasia? Apakah dia mampu menyiapkan racun untuk tokoh-tokoh istana?”

“Orang kita yang satu ini tampaknya penggugup. Saya sudah menarik dia dari istana sebelum kedoknya terbuka. Berarti kita tetap mulai dengan membunuh Raja lebih dulu.”

“Pasukan yang akan menyerbu istana. Apakah jumlahnya cukup kuat?”

“Jumlah pasukan kita memang tidak besar Den Ayu. Namun unsur dadakan selagi mereka berada dalam suasana geger akibat kematian Raja membuat kita berpeluang besar untuk mengambil alih kekuasaan…”

“Kalau begitu empu segera saja berangkat ke Susukan.”

“Memang saya akan segera berangkat saat ini juga. Menurut Patih Wulung Kerso, atas kehendak Raja dia akan mengirim beberapa orang petugas untuk menjaga rumah dan sekitarnya malam ini. Saya pergi sekarang Den Ayu…”

“Baik empu. Hati-hatilah…” Kata Nawang Suri. Secepatnya orang tua itu keluar, dia segera menutup pintu.

Di dalam kamarnya Nawang Suri mengambil Keris Mustiko Geni dan mencabut senjata ini dari sarungnya. Sinar merah menerangi kamar. “Keris sakti, kau akan mendapat tugas besar. Setelah itu kau akan kembali menjadi lambang dan tumbal tahta kerajaan!”

Gadis itu cepat sarungkan senjata mustika itu kembali ketika di luar didengarnya suara derap kaki-kaki kuda mendatangi. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu. Nawang Suri menyelipkan Mustiko Geni di pinggang lalu keluar dari kamar.

Ketika pintu depan dibuka, sesosok tubuh tinggi besar tegak di hadapan Nawang Suri. Orang ini langsung menjura hormat dan dengan kepala agak tertunduk dia berkata, “Gusti Ayu… Saya diperintahkan Patih Kerajaan untuk memimpin penjagaan di sini malam ini. Saya Buto Celeng, datang bersama dua orang bawahan…”

Selesai berkata begitu baru orang tersebut mengangkat kepalanya. Setelah jelas-jelas dia melihat wajah gadis di hadapannya maka Buto Celeng berseru kaget seraya mundur, “Bukankah… bukankah gusti ayu… Kau! Kau gadis pemberontak malam itu! Kau Nawang Suri…!”

Kata-kata Buto Celeng hanya sampai di situ. Pada detik Buto Celeng mengetahui siapa dirinya, Nawang Suri mencabut Mustiko Geni dan secepat kilat menusukkannya ke dada kiri tokoh silat istana kelas tiga itu. dua orang perajurit yang ikut bersama Buto Celeng dan berada di tangga rumah tentu saja terkejut menyaksikan kejadian itu. Keduanya melompati tangga memburu.

Namun merekapun disambut dengan tusukan-tusukan senjata sakti hingga menemui ajal menyusul Buto Celeng. Mayat ketiga orang itu dinaikkan ke atas kuda tunggangan masing-masing.

Setelah berganti pakaian Nawang Suri menunggu sampai malam turun lebih gelap, lalu dalam kegelapan malam tiga kuda bersama tiga mayat itu dibawanya ke arah timur di mana terdapat sebuah jurang di tepi belantara.

Sebelum Buto Celeng dilemparkannya ke dalam jurang ersama mayat dua perajurit itu, Nawang Suri menyelipkan sepucuk kertas ke dalam saku pakaian Buto Celeng. Dengan seringai puas gadis ini kemudian tinggalkan tempat itu. Di kejauhan terdengar suara anjing melolong. Dinginnya udara mulai menucucuk persendian.

********************

SEBELAS

Ketika malam itu Patih Wulung Kerso melaporkan pada Sri Baginda bahwa seorang pencari kayu menemukan mayat Buto Celeng dan dua perajurit di dalam jurang di tepi hutan belantara Jatilameh, sang raja tampaknya tak begitu tertarik. Dia yang sedang kasmaran malah menanyakan keadaan Ratih calon gundiknya itu. sewaktu diberitahu Ratih tak kurang suatu apa, Sri Baginda tertawa cerah.

“Syukur calon gundikku itu berada dalam keadaan baik-baik. Kuharap agar kau mengatur membawanya malam ini juga ke istana…”

“Sri Baginda,” ujar Wulung Kerso. “Apakah itu tidak terlalu cepat? Kita masih belum menujuh hari atas berpulangnya putera Sri Baginda Pangeran Onto Wiryo…”

“Soal gundikku dan puteraku tak ada sangkut pautnya. Lakukan apa yang kuperintahkan. Atau kau ingin membantah Paman Patih?”

“Maafkan saya Sri Baginda. Bukan maksud saya berani membantah. Saya hanya menyampaikan sesuatu yang saya rasa baik. Saya hanya menurut perintah. Bagaimana dengan mayat Buto Celeng dan dua perajurit itu…?”

“Bagaimana apa lagi? Urus penguburannya. Habis perkara. Kurasa mereka bertiga berkeluyuran malam tadi. Bukannya berjaga-jaga di rumah Gama Manyar…”

“Menurut Den Ayu Ratih mereka tak pernah sampai ke rumahnya…”

“Jelas itu satu bukti lagi. Mereka keluyuran. Dihadang para pemberontak yang menyelinap ke dalam Kotaraja dan dibunuh!”

“Mungkin begitu Sri Baginda. Namun orang-orang kita masih terus melakukan penyelidikan apa sebenarnya yang terjadi. Ada sesuatu ditemukan dalam saku pakaian Buto Celeng.”

“Sesuatu apa?”

“Sepucuk surat. Agaknya dalam istana banyak musuh dalam selimut. Untuk jelasnya silahkan Sri Baginda membaca surat yang ditemukan dalam saku Buto Celeng ini…” Lalu Patih Wulung Kerso menyerahkan sepucuk surat yang sudah lecak dan kotor.

Mendapatkan dimas Sindu Kalasan.
Dengan tewasnya Empu Andiko Pamesworo kekuatan kita jelas berkurang. Karenanya kita harus bergerak cepat sesuai dengan rencana. Sebelum aku mati, aku ingin Raja perampas tahta kerajaan itu menemui ajalnya. Harap dimas segera menghubungi orang-orang kita untuk menentukan hari penyerbuan. Jangan lupa mencari tambahan kekuatan baru, terutama dari pihak tokoh-tokoh silat istana. Jabatan patih tetap menjadi bagian dimas kelak

Tertanda, 
Resi Mulyorejo


Kedua mata Sri Baginda terbelalak dan memandang tak berkedip pada Wulung Kerso.

“Jadi… Jadi…”

“Sri Baginda sudah membaca semua. Saya tinggal menunggu perintah…” kata Patih Wulung Kerso ketika melihat Sri Baginda gagap dan merah wajahnya.

“Panggil hulubalang pertama dan kedua. Bawa dua lusin perajurit! Tangkap keparat itu sekarang juga. Dan besok pagi gantung dia di alun-alun agar semua melihat apa akibat bagi seseorang yang menjadi musuh dalam selimut!”

“Perintah saya lakukan Sri Baginda. Saya mohon diri!” kata Patih Wulung Kerso.

“Tunggu dulu!” seru Raja. “Resi keparat bernama Mulyorejo itu! Kukira sudah mampus dia! Ternyata masih hidup. Apa sampai saat ini orang-orangmu masih belum mengetahui di mana tempat persembunyiannya?”

“Manusia satu itu sulit dilacak. Licin seperti belut…”

“Sudah! Sudah! Pergi lakukan tugasmu paman Patih. Aku tak mau dengar cerita panjag lebar tentang kehebatan Resi keparat itu, yang perlu menangkap dan memancungnya! Lalu satu hal jangan lupa! Ratih, gadis yang akan jadi gundik baru ku harus berada di istana malam ini juga. Aku sudah memerintahkan kepala rumah tangga istana menyiapkan sebuah kamar baru di ujung kanan keputrenan…”

“Baik Sri Baginda. Semua perintah akan saya lakukan…” Kata Patih Wulung Kerso lalu menjura dan berlalu dari hadapan sang raja.

Sebagai tokoh silat tingkat tinggi istana Sindu Kalasan alias Datuk Tongkat Dari Selatan mendapat tempat kediaman dalam lingkungan bangunan-bangunan istana. Rumahnya, sebuah gedung kecil tapi mewah terletak di sebelah timur pintu gerbang. Dia tengah duduk berangin-angin di langkan gedung sambil mendengar nyanyian seorang kawula ketika rombongan utusan Patih Wulung Kerso muncul, langsung menyerahkan surat yang ditemukan dalam saku pakaian Buto Celeng.

“Ini fitnah busuk keparat!” teriak Datuk Tongkat seraya menggebrak meja kayu di hadapannya hingga hancur berkeping-keping. Surat itu diremasnya lalu dibantingnya ke lantai. Sepasang matanya membelalak menatap dua orang yang tegak di hadapannya sambil melipat sepasang tangan masing-masing di depan dada.

“Kalian berdua adalah sahabat-sahabatku! Kalian pasti tidak mau mempercayai isi surat itu bukan…?” kembali sang datuk bicara.

“Apa yang tersirat itulah yang nyata dimas Sindu.” Menjawab kakek berpakaian biru berikat pinggang putih yang tegak memegang seuntai tasbih hijau. Mulutnya senantiasa komat-kamit melafalkan sesuatu. Dia adalah Ki Rawe Jembor, hulubalang barisan pertama yang memiliki kepandaian dua tingkat di atas Datuk Tongkat dan merupakan pimpinan dari seluruh tokoh silat istana yang mengabdikan diri pada kerajaan.

Di sebelah Ki Rawe Jembor berdiri seorang lelaki berwajah pucat angker. Kedua pipi dan rongga matanya sangat cekung. Dia dikenal dengan nama Imo Gantra, merupakan hulubalang barisan kedua dan memiliki kepandaian satu tingkat di bawah Ki Rawe Jembor atau satu tingkat di atas Datuk Tongkat.

Perlahan-lahan Sindu Kalasan tegak dari kursi yang didudukinya. Dadanya turun naik tanda perasaannya berkobar. Dia memandang berganti-ganti pada kedua tokoh di hadapannya lalu berkata,

“Kalian tidak bicara banyak. Jadi… apakah kalian datang untuk menangkapku? Menangkap sahabat sendiri?!”

“Antara kita tetap sebagai sahabat-sahabat tak terpisahkan dimas Sindu,” menyahuti Imo Gantra. “Hanya dalam soal tugas harap kau suka memisahkan persahabatan dan kenyataan.”

“Kami harap kau ikut secara baik-baik. Di hadapan Sri Baginda, kami akan berusaha membelamu.”

Datuk Tongkat menyeringai sinis mendengar kata-kata Ki Rawe Jembor itu. “Jika kalian berniat membelaku, kalian tak akan sampai datang kemari! Tidak kusangka, sahabat-sahabat yang kukira sejati malam ini menunjukkan belangnya. Jika kalian hendak menangkapku silahkan!”

Habis berkata begitu Datuk Tongkat berteriak keras. Tubuhnya melesat ke atas, meelwati antara bahu Imo Gantra dan Ki Rawe Jembor dan sampai di taman gedung. Dua lusin perajurit yang sejak tadi berjaga-jaga segera mengurung sementara Imo Gantra dan Ki Rawe Jembor sudah berkelebat dan tegak mengapit sang datuk.

“Dimas Sindu. Aku anjurkan agar kau menyerah secara baik agar tak ada darah yang tertumpah!”

Datuk Tongkat tertawa panjang. “Mulutmu sungguh manis. Tapi hatimu palsu! Aku lebih suka memilih mati bergenang darah dari pada menyerah!”

Sepasang mata Datuk Tongkat membelalak liar. Pada saat itulah dia melihat sebuah kereta terbuka memasuki pintu gerbang dikawal oleh enam perajurit di bawah pimpinan seorang perwira. Ketika melihat gadis cantik yang duduk di atas kereta terbuka itu, entah bagaimana mendadak saja ingatan sang datuk kembali pada peristiwa perkelahian di malam hari di daerah pesawahan.

Darah sang datuk tersirap. Wajahnya menunjukkan rasa kaget amat sangat. Kalau pada malam sang dara melayat dia masih belum ingat siapa adanya dara itu tapi saat ini mendadak saja ingatannya pulih kembali. Gadis di atas kereta itu, yang diketahuinya hendak diambil gundik oleh Sri Baginda, sesungguhnya adalah musuh besar kerajaan yang sedang dicari-cari. Yaitu bukan lain ratu pemberontak Nawang Suri!

Nawang Suri sendiri merasakan dadanya berdebar sewaktu melihat Datuk Tongkat memandang tak berkedip ke arahnya. “Celaka kalau dia sampai mengenaliku,” membathin Nawang Suri. “Aku datang kemari terlalu cepat. Ternyata datuk itu belum ditangkap. Surat palsu yang kuselipkan di kantong Buto Celeng pasti datang terlambat ke tangan raja…”

Nawang Suri palingkan wajahnya, menghindari pandangan Datuk Tongkat. Namun jalan pikiran sang datuk justru tampak jernih. Dia ingat ketika memeriksa mayat Buto Celeng dan dua anak buahnya, ketiga orang itu menemui ajal dengan badan hangus hitam. Berarti luka-luka yang dideritanya akibat tikaman senjata sakti. Dan kini dia tahu. Senjata sakti apalagi kalau bukan Keris Mustiko Geni?!

“Gadis pemberontak! Kau mau kemana!” berteriak Datuk Tongkat lalu melompat ke arah kereta. Tentu saja para perajurit dan hulubalang istana yang mengurung cepat memapaki gerakannya.

“Kalian semua dengar! Gadis ini adalah Nawang Suri, ratu pemberontak! Kita harus menangkapnya!” berteriak Datuk Tongkat.

Imo Gantra mendengus. “Jangan coba mengalihkan perhatian dimas Sindu! Justru kaulah yang harus kami tangkap detik ini juga!”

“Tolol! Kalian tidak kenal siapa dia! Aku pernah bentrokan dengan dia. Gadis ini adalah Nawang Suri, ratu pemberontak yang dicari-cari. Dia memiliki Mustiko Geni!”

Ki Rawe Jembor tertawa sinis. “Pemberontak tak menuduh pemberontak! Dimas Sindu, kau tahu siapa gadis itu? Dia adalah calon gundik Sri Baginda. Kuharap mulutmu jangan ketelepasan bicara yang tidak-tidak!”

“Kalian boleh mencincang aku! Tapi tangkap dulu gadis itu!” teriak Datuk Tongkat marah dan sangat penasaran karena ucapannya.

Ki Rawe Jembor memberi isyarat. Belasan perajurit dan Imo Gantra kembali menyerbu. Terpaksa Datuk Tongkat menghadapi orang-orang ini dan putar tongkat bambunya dengan sebat. Dua prajurit terpekik dan terjengkang. Seorang roboh dengan dada mengucurkan darah akibat tusukan tongkat bambu, satunya lagi merangkak di tanah sambil mengerang karena tulang selangkangannya patah.

Meskipun orang-orang yang ada di situ tidak mempercayai kata-kata Datuk Tongkat, namun dalam hatinya Nawang Suri yang duduk di atas kereta merasa tak enak. Keadaannya kini sangat terancam. Dia harus mengambil satu keputusan. Selagi para tokoh silat itu sibuk hendak menangkap Datuk Tongkat dia harus mengambil keputusan, sekaligus melakukannya. Tangannya bergerak perlahan ke arah pinggang. Di situ tersembunyi keris sakti Mustiko Geni.

Di saat itu pula di pintu gerbang pekarangan istana terdengar suara siulan. Sesosok tubuh berkelebat lalu laksana seekor burung hinggap di atas tembok istana, duduk berjuntai menyaksikan perkelahian seru antara para tokoh silat istana. Menurut orang yang duduk di atas tembok ini, dalam waktu singkat sang datuk pasti akan konyol dilabrak sereangan-serangan yang begitu banyak. Ketika berpaling ke arah kiri diapun tampak tercengang melihat siapa dara yang duduk di atas kereta terbuka.

“Gadis itu! kini dia ada pula di sini! Kalau dia benar pemberontak, berarti dia berada di sarang harimau! Nekad! Berani betul dia! Apa yang hendak dilakukannya di sini. Tapi eh, dia duduk di atas kereta diiringi para pengawal. Bagaimana mungkin…?”

Karena tak habis pikir orang yang duduk di atas tembok itu geleng-gelengkan kepala lalu garuk rambutnya beberapa kali. Inilah ciri-ciri Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng!

********************

DUA BELAS

Sri Baginda duduk terkantuk-kantuk di atas kursi sambil menyedot pipa panjang. Bau tembakau yang dibakar memenuhi ruangan besar. Di sebelah kirinya duduk Patih Wulung Kerso. Di sebelah kanan berdiri Raden Cokroningrat, Kepala Pasukan Kerajaan.

“Gundikku itu masih belum juga datang. Dan aku mendengar suara ribut -ribut di luar sana…” kata Sri Baginda pula setelah lebih dulu menghembuskan asap pipanya jauh-jauh ke udara.

“Sebentar lagi Den Ayu gundik Sri Baginda itu pasti sampai,” menjawab Cokro Ningrat. “Dan suara ribut-ribut di luar itu adalah suara perkelahian mereka yang sedang menangkap Datuk Tongkat.”

“Hanya menangkap seekor monyet pengkhianat saja mengapa begitu riuhnya seperti tontonan pasar malam!” kata Sri Baginda. Dengan rasa tak sabar dia menyerahkan pipanya pada seorang ponggawa lalu bangkit dari kursi, melangkah ke langkan depan istana diikuti oleh Wulung Kerso dan Cokro Ningrat.

Sewaktu Sri Baginda sampai di tangga depan istana perkelahian tengah berlangsung seru. Datuk Tongkat Dari Selatan tampak berlumuran darah di wajahnya sebelah kanan akibat hantaman tasbih hijau Ki Rawe Jembor yang tepat menghantam mata kanannya hingga pecah dan mengucurkan darah.

Dalam keadaan terluka begini sang datuk mengamuk seperti harimau kemasukan setan. Dia sudah maklum tak bakal bisa lolos dari kepungan dua tokoh silat dan delapan perajurit itu. karenanya dia berjibaku. Mati tak jadi apa asal paling tidak salah seorang dari dua tokoh silat istana itu juga harus meregang nyawa di tangannya. Tongkat sang datuk menderu ganas. Menusuk dan memukul ke pelbagai penjuru.

Namun di jurus itu dia hanya mampu menghantam dua orang perajurit saja sementara gempuran serangan atas dirinya semakin membahayakan. Pada saat itulah dengan mata kirinya yang masih utuh Datuk Tongkat melihat Sri Baginda muncul di tangga istana sementara kereta yang membawa Nawang Suri juga sampai di depan tangga dan berhenti di hadapan sang raja.

“Sri Baginda!” berteriak Datuk Tongkat seraya melompat mendekati tangga istana. “Awas! Gadis di atas kereta itu adalah Nawang Suri! Pemberontak yang selama ini dicari-cari…!”

Ucapan Sindu Kalasan alias Datuk Tongkat hanya sampai di situ. Untuk kedua kalinya tasbih hijau di tangan Ki Rawe Jembor berdesing ganas, menghantam batok kepala Dauk Tongkat hingga manusia yang pernah membaktikan dirinya pada istana ini harus menemui ajal di tangan kawannya sendiri! Datuk Tongkat terkapar di ujung tangga istana denan kepala pecah! Serta merta perkelahianpun berhenti.

Kejadian yang mengerikan itu agaknya sama sekali tidak begitu menarik perhatian sang raja. Dia memalingkan kepala ke arah perawan cantik jelita yang duduk di atas kereta, yang sebentar lagi akan diboyongkan ke dalam kamar istana. Dia sendiri yang akan memegang tangan Ratih, membantunya turun dari kereta lalu membawanya masuk ke dalam istana.

Namun maksud sang raja tak pernah kesampaian. Dari atas kereta terdengar suara pekik menggelegar, mengejutkan semua orang. Selagi semua orang terkesiap kaget, tubuh Nawang Suri tampak melompat. Sinar merah tiba-tiba membersit di sertai hawa panas menebar angker.

“Keris Mustiko Geni!” teriak Imo Gantra, Raden Cokro Ningrat dan Patih Wulung Kerso, juga Ki Rawe Jembor ketika semua mereka melihat benda yang tergenggam di tangan Ratih, calon gundik yang sebenarnya adalah Nawang Suri, musuh besar kerajaan. Semua orang memburu. Namun jarak mereka dari raja terpisah cukup jauh.

Selagi Sri Baginda tercekat tak mengerti apa yang sebenarnya telah dan akan terjadi, keris sakti di tangan Nawang Suri telah menghujam dalam di pertengahan dadanya!

“Gusti Allah! Celakalah Kerajaan!” seru Ki Rawe Jembor menyaksikan raja berlumuran darah sambil memegangi dada, tertegak gontai lalu roboh di anak tangga kedua.

“Sri Baginda tewas!” berseru Imo Gantra. Semua yang menyaksikan bagaimana tubuh Sri Baginda sesaat berkelojotan, matanya membeliak. Dari mulutnya keluar ludah membuih lalu sekujur tubuhnya tampak menghitam seperti hangus!

Dalam keadaan seperti itu Nawang Suri membalikkan diri menghadap orang-orang itu seraya mengacungkan Keris Mustiko Geni yang berlumuran darah ke atas. “Kalian semua dengar!” teriak gadis ini. wajahnya buas dan matanya berapi-api. “Keris Mustiko Geni dalam genggamanku! Berarti tahta kerajaan ada dalam tanganku! Tahta memang menjadi hakku karena raja kalian sebelumnya telah merampas dari ayahku! Kalian harus tunduk semua padaku! Aku Nawang Suri ratu penguasa di negeri ini!”

“Gadis nekad!” terdengar seruan dari tembok istana.

Nawang Suri melirik dan melihat Wiro Sableng duduk di atas tembok itu. gadis ini mengomel dalam hati namun dia kembali menghadapi orang-orang itu. Dia harus menguasai keadaan dengan cepat.

Hanya saja Ki Rawe Jembor dan Imo Gantra merupakan orang tokoh pertama yang tak bisa dibuat tunduk. Dengan tasbih diputar di tangan kanan Ki Rawe Jembor maju mendekat seraya berkata, “Gadis pemberontak! Kau telah membunuh raja! Nyawamu tak bisa di ampuni!”

"Wuttt...!"

Tasbih hijau berkelebat. Sinar hijau berkiblat, membuat Nawang Suri terhuyung dan cepat mundur seraya menangkis dengan Keris Mustiko Geni. Di kakek yang maklum akan kehebatan senjata di tangan lawan tak berani melakukan bentrokan. Dengan cerdik dia berkelit lalu menggempur lagi dari samping.

Sementara itu Imo Gantra, Cokro Ningrat, sembilan perwira dan puluhan perajurit telah melakukan pengurungan lalu mulai merangsak maju. Betapapun tingginya kepandaian Nawang Suri, sekalipun senjata sakti tergenggam dalam tangannya namun menghadapi sekian banyak musuh benar-benar bukan tandingannya. Apalagi pakaian yang dikenakannya saat itu yakni kebaya dan kain panjang tidak memungkinkannya untuk bergerak leluasa.

Dalam waktu dua jurus saja gadis ini sudah terdesak hebat. Dalam jurus ketiga Keris Mustiko Geni terlepas dari tangannya. Senjata mustika sakti ini cepat disambar Patih Wulung Kerso. Nawang Suri sendiri melompat mundur sambil pegangi tulang lengan kanannya yang patah dihantam tasbih Ki Rawe Jembor!

“Kalian mau membunuhku?!” teriak Nawang Suri sambil bersandar ke tiang besar langkan istana. “Aku tidak takut mati! Matipun bukan satu kesia-siaan bagiku! Yang penting aku telah membalaskan sakit hati ayah bundaku! Membunuh raja kalian! Perampas tahta kerajaan milik syah ayahku!”

Dua buah pedang, satu tombak, satu jotosan berkekuatan tenaga dalam tinggi ditambah satu hantaman tasbih sakti berebut cepat melabrak tubuh Nawang Suri. Sang dara yang memang nekad dan merasa tidak takut malah sengaja menghadang kematian dengan tabah.

“Gadis nekad! Benar-benar nekad! Gila!” Terdengar teriakan jengkel dari arah tembok halaman istana. Bersamaan dengan itu menderu suara aneh laksana ribuan tawon mengamuk. Sinar putih perak menyilaukan berkiblat.

"Trangg! Trangg! Trangg...!"

Dua pedang dan satu tombak terbabat putus. Masing-masing pemegangnya terpental dan terpaksa lepaskan senjata mereka yang telah puntung karena gagang-gagang senjata itu mendadak sontak terasa panas seperti terbakar!

Imo Gantra kucurkan keringat dingin. Kalau dia tak lekas menarik pulang pukulannya, tangan kanannya akan cacat putus seumur hidup! Ki Rawe Jembor berseru tegang. Wajahnya pucat ketika dapatkan tasbih saktinya kini tinggal seutas benang. Butiran-butiran tasbih hijau melayang ke udara, jatuh bertebaran di langkan istana.

Di depan sosok tubuh Nawang Suri kini tegak seorang pemuda berambut gondrong sambil memegang sebilah senjata aneh yakni sebilah kapak bermata dua.

“Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!” seru Imo Gantra dan Ki Rawe Jembor.

Mereka berdua belum pernah bertemu dengan Wiro Sableng. Tetapi melihat senjata yang ada dalam genggaman murid Sinto Gendeng dari gunung Gede ini keduanya segera maklum siapa adanya pemuda itu. kalau tadi mereka hendak bertindak garang maka kini terpaksa menahan diri.

“Pendekar 212! Tidak disangka seorang bernama besar sepertimu ternyata membantu pemberontak!” menegur Ki Rawe Jembor.

“Aku tidak merasa dibantu oleh siapapun!” berteriak Nawang Suri.

Wir menyeringai dan melirik sekilas pada sang dara, lalu menimpali. “Aku memang tidak membantunya!”

“Lalu mengapa muncul dan mencampuri urusan kami orang-orang kerajaan?!” kertak Imo Gantra.

Wiro garuk-garuk kepala. “Itulah susahnya jadi manusia seperti aku ini. Aku bertindak tanpa memperdulikan siapa adanya gadis ini. Aku hanya tak ingin melihat darah tertumpah dalam ketidak adilan. Seorang gadis ingusan seperti ini hendak kalian bunuh beramai-ramai!”

“Pemuda lancang! Berani kau mengatakan aku!”

"Wuttt...!"

Nawang Suri hantamkan jotosan tangan kiri ke punggung Wiro Sableng. Pendekar ini cepat berkelit ke samping. Tangan kirinya bergerak mengirimkan satu totokan. Detik itu juga Nawang Suri merasakan tubuhnya kaku tegang.

“Gadis itu bukan gadis ingusan pendekar,” kata Ki Rawe Jembor dengan pelipis bergerak-gerak dan suara bergetar. “Dia adalah gembong pemberontak! Dia telah membunuh raja kami!”

“Kalau begitu kalian uruslah jenazah Sri Baginda!” sahut Wiro pula. Lalu dengan gerakan cepat dia mendukung tubuh Nawang Suri di bahu kirinya, sementara sang dara tidak hentinya berteriak-teriak marah.

“Hendak kau bawa ke mana gadis pemberontak itu…?” kata Ki Rawe Jembor.

“Kemana aku ingin membawanya itu bukan urusan kalian. Aku minta jalan dengan segala hormat!”

Imo Gantra mendengus. “Nama besarmu kami hormati. Tapi jangan kira kami takut untuk melakukan sesuatu!”

Habis berkata begitu Imo Gantra memberi isyarat. Bersama Ki Rawe Jembor, sembilan perwira tinggi termasuk kepala pasukan Cokro Ningrat, ditambah lagi lusinan perajurit, segera menyerbu. Wiro sapukan Kapak Maut Naga Geni 212 ke depan. Semua yang menyerang jadi kalang kabut dan berserabut mundur. Namun sebatang tombak sempat menusuk bahu kiri Nawang Suri hingga gadis ini menjerit kesakitan lalu pingsan melihat darahnya sendiri.

“Kalau kalian bersikeras dan tak mau menahan diri, darah akan lebih banyak mengucur di langkan istana ini!”

Ancaman Wiro itu membuat Imo Gantra dan Ki Rawe Jembor saling pandang. Akhirnya Ki Rawe Jembor berkata, “Kau boleh pergi. Tapi gadis pemberontak itu tetap harus kau tinggalkan di sini!”

“Kalian orang-orang kerajaan mau menang sendiri! Ayah dan Ibu gadis ini telah kalian bunuh! Tahta kerajaan kalian rampas! Apa itu masih belum cukup?!”

“Jika kau berpendapat demikian maka biar aku mengadu jiwa denganmu!”

Imo gantra tak dapat menahan diri lagi dan siap melompati Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun Ki Rawe Jembor cepat memegang bahunya dan membisikkan sesuatu. Imo Gantra meskipun masih penasaran tampak agak kendur amarahnya.

“Pendekar 212!” kata Ki Rawe Jembor. “Saat ini kami perbolehkan kau dan gadis itu pergi. Tapi ingat satu hal. Kami tak akan tinggal diam. Kalian berdua tak bisa lari jauh! Pembalasan kami labih kejam dari siksa neraka!”

Wiro Sableng manggut-manggut sambil menyeringai. “Aku akan ingat baik-baik ucapanmu itu, orang tua. Tapi satu hal dariku, kalian ingat pula baik-baik ucapanku ini. Apa yang telah terjadi hari ini kuanggap selesai dan berakhir sampai di sini. Tak ada silang sengketa baru atau segala dendam kesumat. Tapi jika kalian kelak melakukan sesuatu terhadap salah satu dari kami, berarti kalian membuka pintu neraka untuk kalian sendiri!”

Habis berkata begitu Pendekar 212 Wiro Sableng keluarkan siulan panjang, membuat beberapa kali lompatan dan lenyap dari halaman istana.
T A M A T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar