..SELAMAT DATANG DI BLOG MUKHLIS FADLI..MARI KITA SHARE PENGALAMAN..

Selasa, 02 Mei 2017

Pemimpin “Gundul Pacul”; Catatan Nilai Implisitas dalam Suluk

Pemimpin “Gundul Pacul”;
Catatan Nilai Implisitas dalam Suluk


Gundul gundul pacul-cul, gembelengan

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan

Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar



Para sahabat.. ketika kita mendengar frase atau lirik demi lirik pada lagu “Gundul Pacul”, mungkin akan terbayang di benak kita lagu anak-anak dengan judul yang sama, gambar anak-anak berkepala botak plontos sedang bermain dan bercanda, orang yang berkepala gundul sedang menyangkul di sawah,  salah satu host di sebuah acara bertema petualangan di salah satu stasiun televisi atau mungkin Pak Ogah sedang berjalan sedangkan di atasnya kepalanya terdapat bakul yang berisi nasi sesuai liriknya kemudian nasi itu tumpah ke tanah atau mungkin gambaran-gambaran lain yang sesuai dengan tingkat pengalaman hidup kita masing-masing.  Tapi apakah demikian maksud dari lagu itu? Apakah hanya sekedar lagu untuk anak-anak?



Lagu suluk dengan menggunakan Bahasa Jawa ini adalah hasil buah fikir yang tercipta kurang-lebih tahun 1400-an oleh Raden Mas Said atau yang lebih kita kenal dengan Sunan Kalijaga dan sahabat-sahabatnya ketika mereka menginjak masa remaja. Lagu tersebut sebagai ungkapan pendapat dan sudut pandang mereka yang kritis terhadap para pemimpin di masa itu.  Lagu ini sekilas terasa begitu sederhana, polos dan terasa ringan untuk dinyanyikan. Namun demikian, ternyata tembang ini bukan hanya sekedar lagu yang hanya menggelitik untuk menghibur hati, namun juga sebagai media untuk menyampaikan anspirasi yang  mempunyai makna filosofis sebagai pedoman untuk para pemimpin saat itu yang pada kenyataannya stigma saat itu masih kita rasakan kondisinya  hingga masa sekarang dan mungkin seterusnya. Bahkan menurut saya, lagu ini layak mendapatkan predikat lagu yang luar biasa, timeless, never ending, ever lasting atau predikat-predikat lain yang secara implisit terkandung di dalam liriknya. 

Secara tersirat, lirik tembang ini mengandung makna:

1. Gundul
Adalah kepala plontos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan dan kemuliaan 
seseorang. Sedangkan rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan tanpa mahkota.

2. Pacul

Adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.



Jadi, Gundul pacul artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas). Artinya bahwa kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat, Telinga digunakan untuk mendengar nasehat, Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan, Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil. 

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

3. Gembelengan
Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat. Tetapi dia malah menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya.  Menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga di antara manusia. Dia menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya.

4. Nyunggi wakul, gembelengan Nyunggi wakul

Adalah membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya.  Banyak pemimpin yang lupa bahwa pada hakekatnya dia adalah pengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya.

5. Wakul

Merupakan simbol kesejahteraan rakyat.  Kekayaan negara, sumberdaya, Pajak adalah isinya. Artinya bahwa kepala yang dia anggap sebagai kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat. Kedudukannya di bawah bakul rakyat. Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul? tentu saja pemilik bakul.

Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Dan banyak pemimpin yang masih gembelengan, petantang-petenteng, bersombong ria dan tidak serius dalam menjalankan amanat.  Yang berakibat wakul ngglimpang segane dadi sak latar”.  Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana.

Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat.

Dengan merujuk pada lagu tersebut, mudah-mudahan para pemimpin kita akan mendapat “sentilan” atau bahkan juga “tamparan” sekalipun sebagai pengingat diri mereka.  Namun sebagai rakyat, mari kita juga mendoakan agar mereka senantiasa tergerak untuk menjalankan amanat rakyat dengan sepenuh hati dan penuh rasa tanggung jawab, memiliki integritas yang kuat menjalankan misi pemerintahan, tidak menjadikan kedudukanya sebagai sarana untuk menambah pundi-pundi kekayaan mereka, berbaur mesra dan harmonis dengan masyarakat yang notabene telah memilih mereka meskipun mungkin mereka tidak kenal dengan siapa yang mereka pilih, guna tercipta masyarakat yang adil dan sejahtara sebagaimana amanat undang-undang dan cita-cita kita yang hidup berbangsa dan bernegara.  Dan mudah-mudahan mereka tidak menjadi pemimpin yang “Gundul Pacul” yang tidak menumpahkan bakul beserta isinya sehingga tidak menimbulkan kekecewaan bagi sang pemilik bakul serta senantiasa menggunakan paculnya semaksimal mungkin dan sebaik-baiknya agar tercapai tujuan good governance menuju ke kesejahteraan sosial. (Mukhlis_Fadli)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar